Minggu, 21 April 2013

Kenapa nggak boleh bawain lagu sendiri di acara tribute?

Gue lagi mempersiapkan #1YearLarukuJKT, tribute event buat L'Arc~en~Ciel yang bakal diadain bertepatan dengan momentum satu tahun konser #LarukuJKT, seperti mungkin udah lo duga dari namanya. Waktu diskusi soal sistematika pemilihan lagu, gue dan Macan, partner gue dalam bikin acara ini, sedikit berselisih paham. Menurut gue, dalam acara tribute, menyelipkan--berarti minoritas--lagu orisinil milik performer itu oke-oke aja, tapi menurut Macan, ini mungkin melawan ekspektasi penonton. Dan memang, waktu gue melempar pertanyaan ke timeline, menurut sebagian besar yang jawab, ini ganggu, bahkan ada yang bilang terkesan aji mumpung. Karena ini, gue memutuskan untuk nurut sentimen mayoritas--performer #1YearLarukuJKT hanya boleh membawakan lagu Laruku.

Tapi, terus terang jawaban itu bikin gue mengernyitkan dahi. Memang dalam acara tribute, yang berarti persembahan, sudah pasti nafasnya adalah musik dari band yang menjadi headline (bukan headliner) acara tersebut, entah itu L'Arc~en~Ciel atau siapa pun. Tapi jika lalu dikatakan satu atau dua lagu yang bukan berasal dari mereka itu merusak suasana, rasanya agak berlebihan.

Begini. Penonton dan performer sama-sama datang di acara tersebut untuk melakukan satu hal: memberi penghormatan kepada sebuah band. Hanya saja, performer melakukannya dengan membawakan lagu-lagu band tersebut, sedangkan penonton dengan, um, menonton performer. Kalo gue datang ke acara tribute, yang gue inginkan bukan menonton sekelompok musisi peniru, tapi sebuah interpretasi akan musik yang sudah menginspirasi banyak orang. Dan untuk melakukan interpretasi, lo harus punya karakter sendiri. Individualitas. Atau, ya, lo cuma sekedar jadi musisi peniru aja.

Gue bukan ingin mengharuskan semua band menyelipkan lagu mereka sendiri di sebuah acara tribute. Gue cuma mau bilang, kalo satu lagu dari, say, empat atau lima lagu tribute dibilang merusak suasana, itu berlebihan. Dengan adanya lagu orisinil, sebagai penonton gue bisa mengapresiasi karakter sebenarnya dari performer bersangkutan--orang yang mengagumi band yang sama dengan gue. Dari lagu orisinil, gue bahkan berkesempatan melihat seberapa besar pengaruh, misalnya, L'Arc~en~Ciel, dalam  musik mereka. Toh lo seharusnya hanya main di acara tribute untuk musisi yang elo suka aja, kan?

Bayangin ini. Sekelompok orang suka band tertentu. Elo juga. Mereka mencoba ngebawain musik--tentunya pake latihan dan usaha--dari idola mereka, yang juga idola elo. Mereka lalu bilang, "gue main di acara ini karena gue hormat sama band ini, dan musik mereka adalah salah satu inspirasi gue buat berkarya." Masa sih elo nggak mau denger karya temen satu fandom? Yang aji mumpung sebenernya mereka, yang lo anggep nyusupin lagu, atau elo, yang cuma mau denger musik yang elo suka dibawain sama banyak orang sekaligus?

Selasa, 02 April 2013

Marriage: what people seem to fail to notice

One of the reasons why I cringe everytime someone tells me to date someone is not because I'm against the idea of dating and romance, but because the kind of relationship that's considered normal here.

I mean, a lot of people I know are dating with the mindset of getting married with each other as soon as they started dating. And both parties don't seem to think that it's a big deal. It's the way it's supposed to be, right? You date people, and then you marry them.

Well, to me, it's not. And to be blunt, it terrifies me.

To me, a romantic relationship is always as simple as being with someone that you like. I admit that I'm employing this word in the broadest sense. You enjoy each other's companion, you relate with each other, you care about each other, you respect each other, whatever it is that make both parties feel like they need to be with each other. 

Marriage is a different thing. There is a reason why it is called an institution. Relationship has commitments, but the commitment between two people in a relationship rarely affects things beyond the relationship itself, and the kind of commitments between two dating people are very different in shape and power compared to the ones exist in a marriage. These commitments can range from financial to cultural, and they are often formed not by the couple themselves but by the expectations of people around them, even by the states. So often it involves not evolved and improved kinds of commitment that existed in a relationship, but it changes/replaces these commitments and adds new and different ones altogether (while of course, this is not to say all the previous commitments are erased at all).

I'm not saying that marriage is a bad thing, but clearly it is not just "a step forward" from a relationship. Yet, it's baffling how so many people think of marriage as something that will come to them and their partners naturally. I suspect this is also one of the reasons why divorces happen, because people "forget" to check whether they or their partners are suitable for the kind of commitment awaiting them post-wedding vow, as they only think 'hey we're so great together let's get married ehehehe'.

Aside from all the seriousness, I also blame this kind of mindset--taking the decision to get married for granted--for making the kind of relationship we have around here not as appealing as the ones in the rom-coms. We don't see two people getting engaged as something special, because for all we know, if they were dating each other and not breaking up, that's going to happen sooner or later. I mean, where's the fun in that?

What I can say after all this is that I'm not terrified of what marriage is per se, even though I am not interested in getting institutionalized anytime soon (pun totally intended). I am terrified by how many people seeing marriage as something that just happens anyway, and that how ready they are for it is always measured by financial capabilities, while it is rarely the factor that decides whether a marriage works or fails.

One might argue that there are many people, especially in my generation, that think the same way I do when it comes to marriage, so it doesn't have to deter me from dating anyone I like. But the society always seems obsessed with this concept, that even though the one I date doesn't think about it, the pressure will definitely come from both of our families, and let's just say I am not eager to tend to such nagging.

Minggu, 24 Maret 2013

Kenapa spoiler dalam review film nggak (selalu) salah


Okay.

Gue bukan orang yang suka sama spoiler, bahkan gue termasuk golongan anti-spoiler yang bakal langsung unfollow orang kalo dia ngetwit spoiler di timeline twitter gue, gak peduli siapa. I don’t care—to me, one of the joy in crafting or being an audience of a story is the secrets, the unsuspected developments that come as the plot goes. Kecuali penulisnya sendiri, gue rasa ga ada yang berhak ngerusak kesenangan ini.

Tapi prinsip di atas berlaku cuma dalam konteks sehari-hari aja, ketika ngobrol sama temen atau dalam suasana kasual. Ada kondisi di mana spoiler bisa dibenarkan, bahkan dalam beberapa kasus diharuskan. Salah satunya adalah ketika kita lagi nulis review dari sebuah cerita, baik itu berbentuk buku, film, atau apa pun. Makanya gue heran karena kenapa dalam komentar terhadap artikel yang mengkritisi film Hasduk Berpola ini, pembuat film dan para pendukungnya berusaha untuk menjatuhkan kredibilitas penulis artikel tersebut dengan mengatakan bahwa nggak seharusnya sebuah review mengandung spoiler cerita.

Kenapa gue bilang spoiler dalam review bisa dibenarkan?

Coba kita liat dulu definisi kata tersebut. Menurut Oxford Dictionaries, review adalah “a critical appraisal of a book, play, movie, exhibition, etc., published in a newspaper or magazine. Menurut dictionary.com, “a critical article or report, as in a periodical, on a book, play, recital, or the like; critique; evaluation”.

Lo boleh cari definisi lain, gue rasa jatuhnya nggak akan beda jauh. Buat pembanding, kalo lo cari di thesaurus.com, yang akan keluar sebagai definisi dari review adalah “examination, study” dan sinonimnya antara lain analysis, audit, check, inspection, blawrghearngahga—ya ngerti lah kurang lebihnya, kalo nggak go to school, you motherfu… sori, agak kebawa suasana.

Nah, setelah tau artinya, gue mau tanya: gimana lo bisa melakukan satu evaluasi, analisis, inspeksi, penilaian menyeluruh terhadap sesuatu, kalo lo nggak memeriksa dengan seksama setiap elemennya? Dan bagaimana lo bisa mempertanggungjawabkan kesimpulan dari evaluasi lo itu kalo lo nggak mencantumkan setiap argumennya? 

Review bukan sekedar kesan dan pesan, lo harus punya argumentasi kenapa lo suka atau nggak suka sama sesuatu. Seringkali, beberapa unsur cerita jadi alasan kenapa lo suka atau nggak suka, sehingga spoiler nggak bisa dihindari dalam rangka menulis review. Ini nggak masalah, karena lo memang harus mempertanggungjawabkan statement lo, penilaian lo. Masa iya lo mau bilang, “menurut gue film ini nggak bagus karena nggak masuk akal, tapi gue ga mau spoiler, jadi lo tonton sendiri aja biar tau nggak masuk akalnya di mana.” Kalo itu temen gue sih, ga masalah. Tapi kalo jurnalis film nulis kaya gitu di rubrik review, ya mending gue gebukin aja. Buang-buang waktu, nyet.

Terus terang dulu gue juga sempet nggak suka sama spoiler di rubrik review, tapi sekarang gue mikir, mungkin itu karena gue dulu, dan banyak orang lainnya, terlalu nggak acuh sama terminologi. Kalo mau ulasan bebas spoiler, mungkin nama rubrik tersebut harusnya rekomendasi, bukan review. Selama ini kita nggak bisa membedakan review dan rekomendasi, jadi ekspektasi kita akan sebuah review ya rancu juga.

Begitulah. Gue nulis ini bukan in defense of Adrian Jonathan, orang yang nulis kritik ke film Hasduk Berpola, sih. Gue rasa dia nggak butuh defense, karena kalimat 'jurnalis film kok nulis review pake spoiler' itu ditujukan untuk semata-mata menjatuhkan kredibilitas dia. Intinya, si sutradara dan temen-temennya mau ngomong 'gue gak terima', dan desperate cari cara biar si kritikus keliatan nggak signifikan. Gue nulis ini karena ada beberapa orang yang masih nggak bisa bedain yang mana spoiler yang dibenarkan dibutuhkan dan yang mana yang nggak.

So, yeah, I still hate spoilers, tapi nggak berarti spoiler itu selalu dosa.

Rabu, 20 Maret 2013

The Girl Who Wore Her Own


We never had money. All I had to wear was a heart, so I wore it on my sleeves. It did not take long before even that started to dim.

It was not much of a jewelry, it didn't shine the way jewels are supposed to, but I guess that's exactly why everyone noticed it.

The pendants, the rings the girls in my school wore, they only take money to own. But to wear a heart, they say, it takes bravery.

But I did not put that on because I was being brave. I wanted something to show, something that shines. I was desperate not to be different.

I thought, I'd shine the way they did. Then I' be one of them. One thing I did not know, a heart does not shine because it reflects light.

A heart shines because it burns.

I didn't understand why back then everyone tried to snuff it out. Some hated it, some tried to protect it. I didn't know what was happening.

Sure enough, soon after, the fire died on its own. At first it grew dimmer, and then it became cold.

It took a while before I finally noticed it. By then, it was already a dry, charred piece of charcoal.

So I took it off my sleeve, and put it back where it used to be. I thought it would return to what it was, but it didn't.

I still have no money. And I no longer have a heart to wear.


Twitter, March 17, 2PM

Senin, 30 Juli 2012

Just Saying...

...that I think this is one of the most beautiful love songs ever written, and definitely is one of '90s finest. Plus, the video features some awesome tits.



"Malibu"
by Hole

Crash and burn, all the stars explode tonight

How'd you get so desperate?
How'd you stay alive?
Help me please, burn the sorrow from your eyes
Oh, come on, be alive again
Don't lay down and die

Hey hey, you know what to do
Oh baby, drive away to Malibu
Get well soon, please don't go any higher
How are you so burnt when you're barely on fire?
Cry to the angels, I'm gonna rescue you
I'm gonna set you free
Tonight baby, pour over me

Hey hey, we're all watching you
Oh baby, fly away to Malibu
Cry to the angels, let them swallow you
Go and part the sea, yeah, in Malibu

And the sun goes down, I watch you slip away
And the sun goes down, I walk into the waves
And the sun goes down, I watch you slip away
And I watch

And I knew love would tear you apart
Oh, and I knew the darkest secret of your heart

Hey hey, I'm gonna follow you
Oh baby, fly away, yeah, to Malibu
Oceans of angels, oceans of stars
Down by the sea is where you drown your scars, oh oh

I can't be near you
The light just radiates
I can't be near you
The light just radiates

Minggu, 10 Juni 2012

Teka-teki McDonald's Indonesia dan Akun Twitter Misterius

Di dunia ini, ada beberapa kejadian yang--entah karena keterbatasan kapasitas berpikir lo atau saking absurdnya kejadian-kejadian tersebut--lo yakin banget sebenernya berhubungan tapi nggak bisa lo jelaskan sendiri. Jadi lo butuh second opinion--entah itu dari temen, senior, cenayang, NASA atau Conan Edogawa--untuk ngejelasin kesalingterkaitan antara fenomena-fenomena ini.

Sayangnya ini bukan tahun 90-an, di mana truth-seekers itu keren,
bukan kutu buku berkepala bolu kukus bantat.

Nah, ada dua kejadian yang gue yakin berhubungan, tapi gue gak yakin gimana. Yang jelas feeling gue nggak enak. Jadi gue harus minta bantuan elo semua buat jelasin.

Jadi gini ceritanya.

Kemaren (Sabtu, 9 Juni 2012), temen gue Liongky makan di McDonald's sektor 9 (Bintaro). Pengalaman nggak menyenangkannya dimulai dengan antrian yang diserobot dan dibiarin aja sama staf. Tapi, namanya juga Jakarta, lo pasti pernah ngalamin juga yang begini. Wajar lah. Maka, insiden antrian diikhlaskan walau godaan untuk baku tampol sangat besar. Lagipula, selang beberapa menit kemudian dia udah bisa duduk dan makan di smoking area restoran tersebut.

Masalah baru bermulai saat Liongky baru makan setengah jalan, tiba-tiba dateng staf McD minta area itu dikosongkan karena mau dipake buat nobar Euro. Jadi dia diusir waktu lagi makan, dan kalo mau di tempat itu terus, dia harus pesen lagi. Pesen paket upsize, lebih tepatnya. Dan ini tentu aja nggak masuk akal karena Liongky udah pesen dan lagi makan di tempat itu--I mean, dia bukannya lagi nongkrong-nongkrong gak jelas aja di area nobar. Ini nggak beda jauh lah dari nahan boker dua jam, dan saat akhirnya alhamdulillah bisa menunaikan hajat, mendadak alarm kebakaran bunyi. Pas bener pas lagi nanggung.

Gue gak ngerti abis itu gimana ceritanya, tapi gue bayangin Liongky langsung males dan pergi dari situ, lalu memilih untuk komplain lewat twitter. Gimana ngamuknya si Liongky ke McDonald's bisa lo liat di sini. Seandainya gue yang ngalamin, mungkin gue juga bakal sengamuk itu. Gue sempet menyebarluaskan masalah ini di timeline twitter gue, dan dapet beberapa tanggapan yang intinya kaget franchise sebesar McD bisa kayak gitu. 


Cuman, yang aneh adalah tadi siang (Minggu, 10 Juni 2012), gue bangun tidur dan mendapati mention-mention aneh dari sebuah akun bernama @darkmatterz yang bernada menjelek-jelekkan semua orang  yang mereply tweet gue di atas dengan komentar negatif ke McDonald's. Setelah gue cek itu akun, ternyata usianya juga belum ada setengah hari, dan 7 dari 8 tweet isinya cuma menanggapi mention negatif ke McDonald's.

Tentu aja, waktu dikonfrontasi sama Liongky ke akun resmi McDonald's Indonesia yaitu @McDonalds_ID, mereka nggak tahu apa-apa dan dengan lugunya mengira dia temennya Liongky. Ya iyalah, soalnya nggak mungkin banget kan perusahaan sebesar McDonald's melakukan hal rendah kayak bikin akun nggak jelas untuk menghina dan mengintimidasi publik termasuk orang yang kecewa sama pelayanannya? 


Ya walaupun ngusir pelanggan yang lagi makan juga udah cukup rendah, tapi nggak mungkin serendah itu kan? Atau mungkin akun ini adalah konspirasi Yahudi-Amerika yang ingin memecah-belah bangsa lewat jaringan restoran waralaba, karena agen mereka yang terakhir sudah berhasil diusir oleh idol group nan kharismatis ini?

Kyaaaaa~~ desu.
Jadi gimana penjelasan yang masuk akal menurut kalian? Apakah @darkmatterz hanyalah seorang pengguna baru twitter yang kebetulan penggemar berat McD, sehingga segera setelah sign-up dia langsung search semua tweet yang berhubungan dengan McDonald's Indonesia? Atau memang McDonald's berafiliasi dengan Illuminati atau Tarekat Mason Bebas dan @darkmatterz ini adalah agen rahasianya sehingga si Liongky sekarang harus nyewa bodyguard atau operasi plastik dan pindah ke Vanuatu?

Tolong ya bantuin gue mikir. Gue penasaran banget sama hubungan antara McDonald's dan @darkmatterz ini. Soalnya ngeliat fotonya tampaknya dia bukan orang Indonesia, tapi kok bisa bahasa Indonesia dan username-nya serem gitu. Udah gitu setelah Liongky cerita dia ditelpon sama store manager McDonald's Indonesia jam 7 tadi, mendadak semua tweet @darkmatterz yang berhubungan sama McDonald's hilang secara misterius, tinggal tersisa satu tweet!

Kira-kira gue perlu ikut operasi plastik dan eksodus juga, nggak? 8'(

Minggu, 13 Mei 2012

#LarukuJKT: Moment-by-Moment Recollection of a 12 Years-Old Dream



THE BEGINNING

Semuanya berawal dari tweet manajer L'Arc~en~Ciel tahun lalu.


Sejak tahun 2005, rumor tentang kedatangan band favorit gue ini udah seliweran, tapi nggak pernah ada yang bisa dipertanggungjawabkan. "Tahun depan, tahun depan, tahun depan." Bahkan hashtag #LarukuJKT sudah terlacak di twitter sejak tahun 2010. False alarm yang berulangkali mengangkat emosi sampai ke tingkat euforia, lalu akhirnya lewat begitu saja sebagai kabar burung belaka. Tapi gue punya harapan jauh lebih besar pada frase 'tahun depan' kali itu karena adanya tweet di atas, makanya gue mulai nabung untuk entah tanggal berapa di tahun 2012 Laruku--begitu mereka biasa disebut oleh lidah Jepang--betul-betul menggelar konser di Indonesia.

Dan walaupun udah siap-siap sejak beberapa bulan sebelumnya, kemunculan tweet ini tetap membuat gue merinding sekujur tubuh dan nyaris nangis saat itu juga.




Entah saking tingginya gue memandang L'Arc~en~Ciel atau gimana, eksistensi mereka buat gue hampir seperti superhero di komik-komik yang nggak mungkin gue temui di kehidupan nyata, dan video konser mereka yang selama ini gue tonton seolah bertempat di dimensi parallel yang nggak terjangkau. Bayangan bahwa gue bisa berdiri di depan panggung konser Laruku, bisa saling melihat dan mendengar dengan keempat personelnya secara langsung walaupun hanya sebagai satu di antara ribuan titik yang menyublim dalam singalong massal, terasa surreal buat gue, bahkan absurd.

Maka, mohon pengertiannya kalo cerita ini sangat panjang, sentimentil atau bahkan lebay, karena gue pengen mendokumentasikan setiap detil emosi yang gue rasakan tentang #LarukuJKT, which is the best day in my life so far.


THE JOURNEY AND THE FELLOWS

Seperti sebagian besar fans mereka di sini, gue pertama kali jatuh cinta sama Laruku waktu SD, pada lagu 4th Avenue Cafe yang diputar sebagai ending theme anime Rurouni Kenshin yang ditayangkan oleh SCTV dengan judul Samurai X. Setelah itu, bisa dibilang gue tumbuh bersama Laruku. Membentuk band yang mengcover lagu-lagu mereka saat kelas 3 SMP di mana gue main sebagai keyboardist (lagu mereka yang pertama gue cover adalah Winterfall, Honey dan Driver's High). Mencari terjemahan lirik lagu-lagu mereka di internet dan menyimpulkan bahwa Hyde adalah salah satu penulis lirik terbaik yang gue tahu. Mendapat jatah album Heart dalam acara Tribute to L'Arc~en~Ciel di Jogja tahun 2005, event pertama yang meyakinkan gue bahwa konser Laruku di Indonesia pasti akan memiliki crowd yang luar biasa. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Selagi mengingat masa-masa itu, dalam sekejap mata tiga bulan terlewati, lalu tiba-tiba gue udah berdiri di luar Gate 1 venue 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour Jakarta, Lapangan D Senayan, bersama orang-orang ini.



Saat itu masih pukul 15.00. Gate 1 dibuka pukul 16.00 dan yang ngantri di luar udah bangsat penuhnya kayak gitu. Sedikit menyesal karena nggak dateng lebih cepat, tapi perasaan itu juga pupus melihat antusiasme penonton lain. Ada sekelompok cewek berjilbab yang membuat video rekaman mereka menyanyikan reff lagu Anata bersama-sama, ada yang cosplay bergaya gothic lolita (yang terus terang pengen gue sobek-sobek bajunya, bukan apa-apa, PANAS GILA liatnya), ada yang saling telponan sama temennya yang datang dari kota berbeda supaya bisa saling ketemu. Ribuan orang ini datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk melihat Laruku secara langsung, bahkan ada yang sengaja terbang dari Melbourne seperti Bintang, salah satu anggota rombongan jamaah Larukuiyah gue.

Antusiasme para fans ini bikin gue merinding. Belum lagi mengingat perjuangan mendapatkan tiket yang mengikat gue dan beberapa teman lain dalam satu whatsapp group bernama Concert Vigilontes--no, it's not a typo--yang dinamakan demikian karena hasrat pengen kebiri setiap calo yang bikin tiket jadi cepet abis dan mahal. Gue yakin, Marygops Studios, promotor konser ini, juga nggak menyangka akan dapet sambutan segini besar.

Yang jelas, selain Laruku-nya sendiri, salah satu hal paling menyenangkan dan memorable dari konser ini adalah crowd-nya. Misalnya, saat area konser sudah mulai penuh namun masih ada waktu satu setengah jam sampai konser dimulai, crowd yang mati gaya akhirnya kompak trolling dengan bersorak dan bertepuk tangan keras-keras setiap ada kru yang lewat di atas panggung sampe mereka bingung dan akhirnya menuju backstage dengan malu-malu (kata Helda di blognya, "tak ada Laruku, Larukru pun jadi."). Lalu saat teriak-teriak, "OISHI-SAAAN!" waktu si manajer yang gemar foto-foto itu mengambil gambar penonton dari atas panggung dan bikin gue mikir, apa ada hari gini fandom yang segini apalnya sama manajer sebuah band (selain Slank, mungkin). Gue juga inget waktu nunggu Gate 2 dibuka dan kaki mulai berasa gempor, ada cewek di belakang gue yang ngasih koran buat alas duduk. Ada juga cewek yang berdiri di belakang gue saat konser, yang bantuin gue dan Helda pake jas hujan sebelum konser mulai. Hari itu, sungguh gue nggak peduli siapa berasal dari mana dan seperti apa orang itu di kesehariannya, kapan dia mulai suka Laruku dan kenapa, atau tetek-bengek lainnya. Semakin lama gue menghabiskan waktu bersama orang-orang asing ini, gue makin ngerasa bahwa kita seperti satu keluarga besar yang merindukan sesuatu yang sama. Dan ini membuat gue paham kenapa ada yang menyamakan konser band idola dengan ibadah haji.

"JAMA'AAAAAAAAARC!!!" 
Terus terang, sebelum konser itu dimulai, gue sendiri nggak ngerti seberapa besar rasa suka gue ke L'Arc~en~Ciel. Ya, gue menghabiskan lebih dari separuh umur bersama Laruku, menghabiskan jutaan rupiah untuk beli tiket konser dan perjalanan Jogja-Jakarta PP, memaki J-Rocks secara terbuka di majalah Trax karena terang-terangan menjiplak Laruku dan menjadikan "musik yang mirip L'Arc~en~Ciel" sebagai definisi genre J-Rock, dan masih banyak lagi. Tapi setelah LED screen segede Godzilla di latar panggung--yang awalnya gue kira backdrop hitam biasa--menyala dan menampilkan film pembuka 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour dan menyadarkan gue bahwa #LarukuJKT bukan mimpi, gue spontan nangis sejadi-jadinya, bahkan sebelum keempat personel Laruku keluar. Lalu gue tersadar bahwa gue memang cinta, bukan hanya sekedar mengidolakan band ini.

Saat itu, rasanya seperti kenangan bertumbuh bersama dan menunggu L'Arc~en~Ciel selama 12 tahun meluap, terkondensasi, lalu tumpahlah dalam bentuk air mata. Hasilnya, waktu screen meredup dan lampu sorot menampilkan sosok Hyde, Tetsu, Ken dan Yukihiro di panggung memainkan lagu Ibara no Namida, gue singalong sambil sesenggukan. Satu tangan terangkat mengacungkan lightstick, satunya menutupi setengah muka dengan handuk/shawl yang gue dapat dari VIP package. Absurd. Dan, gue yakin, pasti nampak imbisil. Tapi gue bahagia.


THE 3 HOURS THAT LINGER

Setelah Ibara no Namida, berturut-turut CHASE dan GOOD LUCK MY WAY dibawakan, semuanya disambut koor Cielers Indonesia yang terbilang unik, karena di footage konser Laruku di tempat lain gue nggak pernah nemu crowd yang nyanyi mulai dari awal sampai akhir lagu, di setiap lagu yang dibawakan. Dan begitu juga menurut salah satu teman yang sudah mengalami beberapa konser Laruku sebelumnya. Walaupun memang harus diakui, koor itu terdengar jauh lebih keras saat lagu-lagu dari album lama dimainkan, seperti pada lagu keempat, Honey.



Setelah Honey, DRINK IT DOWN dan Revelation menyusul mengiringi crowd yang jejingkrakan seolah nggak ada capeknya, padahal banyak yang udah berdiri dalam cuaca luar biasa panas selama enam jam, bahkan lebih. Tapi energi bukannya berkurang, malah seperti makin bertambah, seperti saat menimpali intro drum Revelation dengan teriakan "OI!" berulang-ulang. Dan seperti tahu kondisi penontonnya, setelah itu Ken, Tetsu dan Hyde pun duduk di tengah panggung, memberi tanda bahwa mereka akan memainkan sebuah ballad. Dan mengalunlah intro Hitomi no Jyuunin. Lampu sorot meredup, dan penonton berubah menjadi lautan cahaya warna-warni dari lightstick yang mereka lambaikan. Kali ini gue nggak nangis sendirian, karena di sekeliling gue, termasuk mas-mas bertampang metal di sebelah kanan, juga singalong sambil berlinang air mata. Mungkin video ini bisa menggambarkan suasana saat itu, karena kata-kata jelas nggak cukup.

Setelah puas megap-megap karena teriak-teriak sambil nangis, crowd langsung diangkat lagi dengan XXX yang cukup bikin radar seksual para cowok jadi agak noise karena goyangan Hyde yang memang xxx, sesuai judul lagunya. Aris, temen sekaligus anggota embarkasi Jateng-DIY jemaah Larukuiyah di sebelah gue, menggambarkannya dengan tepat: "harusnya Maroon 5 bikin lagu Moves Like Hyde." Bulls-eye!

Sehabis suguhan audiovisual menghanyutkan itu, emosi Cielers langsung dibanting lagi oleh Fate yang dibawakan back-to-back dengan Forbidden Lover. Pada saat ini, gue udah tereduksi menjadi gumpalan air mata karena, bisa dibilang, melihat Fate dimainkan secara live oleh Laruku adalah permintaan yang bahkan nggak berani gue ucapkan karena terkesan terlalu muluk. It's my absolute favorite of all L'Arc~en~Ciel songs, yet it's an old song from their 5th album and it's not even a single. Gue masih inget nonton versi live lagu ini di VCD (yes, VCD) REALIVE 2000, duduk memeluk dengkul dan nangis di depan monitor. Jangan tanya gimana bentuk gue pas lagu itu dimainin di #LarukuJKT kemaren, gue udah nggak ngerti lagi. Apalagi dengan tanpa ampunnya lagu itu disambung dengan Forbidden Lover yang nyaris selalu bikin Hyde menangis saat menyanyikannya. And yes, he did during the song in Jakarta, dan gue rasa semua orang yang melihat perubahan matanya mulai dari jernih, berkaca-kaca, sampai akhirnya meneteskan air mata lewat screen besar di belakang panggung nggak akan lupa momen itu.



Kelar bertangisan massal, Ken mengisi jeda dengan solo bluesy yang sangat clean dan lumayan bikin misuh-misuh, yang langsung disambung dengan MY HEART DRAWS A DREAM. Lagi-lagi di tengah lagu ini ada momen bikin merinding ke-entahberapa, yaitu saat penonton chanting 'yume wo egaku yo' (lit. I draw a dream) berulang-ulang dengan backdrop screen menampilkan lautan tangan yang mengangkat lightstick atau membentuk sign "L", seolah melukiskan mimpi mereka yang menjadi kenyataan, yaitu bernyanyi dan bersenang-senang bersama Laruku. Di titik ini, gue mulai bertanya-tanya, bisa nggak seseorang mati dehidrasi karena kehabisan air mata, soalnya frekuensi dan intensitas nangis gue di konser ini udah melebihi seluruh episode sinetron Naysilla Mirdad dikompresi ke dalam durasi satu jam, dan Laruku baru memainkan sebelas lagu.

Untungnya, SEVENTH HEAVEN langsung mengajak Cielers berpesta lagi setelah itu, lengkap dengan tembakan confetti ke udara yang seketika membuat penglihatan dipenuhi pita-pita warna-warni. Suasana makin menggila saat sound effect mesin mobil yang dinyalakan terdengar, pertanda Driver's High akan dimainkan. Penonton Indonesia kembali menunjukkan reputasi hiperaktifnya dengan chants "OI!" berulang ketika intro, juga seruan "CLASH!" dan "FLASH!" di reff yang dibarengi loncatan. Di lagu ini pula sesuatu yang sangat langka terjadi, yaitu Hyde menyodorkan mic dan membiarkan crowd menyanyikan bagian bridge secara penuh, bahkan tampak girang sendiri saat melakukannya. Menyaksikan ini secara langsung betul-betul priceless! Makin priceless lagi saat gue nengok ke kiri dan ngeliat si Aris lagi sesenggukan. Bener-bener salah gaya. Mestinya ini lagu yang optimis dan semangat, eh doi malah mewek. But it's sweet, though, because it shows that every L'Arc song has a different meaning to each one of their fans. 8')



Seolah nggak mau kehilangan momen, solo performance Tetsu yang simpel tapi cukup bikin fanboys & fangirls histeris tampil mendahului lagu selanjutnya, STAY AWAY, yang tentu saja disambut koor membahana seisi Lapangan D. Pada interlude di tengah lagu ini, crowd melakukan synchronized clapping mengiringi beat drum Yukki, sambil tetap singalong tentunya, because that's what we did throughout the show. Di tengah-tengah clapping itu gue mendadak merasa berada dalam sebuah magical moment karena tanpa menoleh ke belakang, gue tahu seven-fuckin-thousands other people sedang melakukan hal yang sama. 'Epic' is an understatement.

Ready Steady Go dan kembang api besar yang memancar dari panggung serta solo drum Yukihiro menutup bagian pertama pesta Cielers, karena para personel Laruku kemudian menghilang ke balik panggung, memancing penonton untuk memanggil mereka kembali untuk encore. And called for them we did, berulang-ulang, dengan berbagai macam chants, mulai dari 'we want more' sampai 'encore'.



Setelah 10 menit yang terasa bagai berjam-jam karena perpaduan dari rasa nggak sabaran dan keletihan yang semakin menggempur, entah dimulai dari mana, reffrain Anata dinyanyikan oleh crowd, tanpa henti, bahkan semakin lama semakin keras. Gue agak khawatir encore dibatalkan karena hujan mulai turun lagi, tapi tampaknya kecemasan itu nggak beralasan, karena tidak ada seorang pun penonton yang kelihatan mau beranjak atau berhenti bernyanyi sebelum Laruku kembali dan menuntaskan encore-nya. Sebenernya saat itu gue sendiri udah nyaris nggak kuat karena darah rendah, dehidrasi dan maag, sampe akhirnya terpaksa jongkok untuk memulihkan diri walaupun sedikit. Tapi dalam keadaan meringkuk gitu pun gue tetep ngotot ikut nyanyi terus, sampe kuat berdiri lagi. Ternyata di sekitar gue juga penuh dengan muka-muka kecapekan, tapi mereka tetep nyanyi walaupun harus sambil menengadah karena kehabisan napas setelah terus-terusan berdiri di tengah kerumunan. Saat menulis ini, gue bertanya-tanya, sihir macam apa yang bisa menggerakkan tekad begitu banyak orang, termasuk gue, yang seandainya dalam peristiwa lain pasti udah pingsan dari kapan tau.

Sekonyong-konyong terdengar suara piano yang diikuti jeritan crowd. Screen kembali menyala, menampilkan lirik reffrain Anata, disusul synth yang mengiringi nyanyian ribuan Cielers di bawah hujan. Dan gue kembali tercekik air mata sendiri. Merinding, sudah pasti. Terlebih saat Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki kembali dengan outfit serba putih dan memainkan Anata. Liriknya yang sangat heartfelt itu seolah jadi cara L'Arc~en~Ciel dan Cielers saling menyampaikan makna pihak satunya bagi masing-masing diri mereka. 
胸にいつの氷見も輝く あなたがいるから
Mune ni itsu no hi ni mo kagayaku, anata ga iru kara
(It will shine eternally in my heart, because you are here) 
涙彼果てても大切な あなたがいるから
Namida karehatete mo taisetsu na anata ga iru kara 
(Even if tears run dry, it will stay precious, because you are here)
Kalo ada kalimat yang paling menggambarkan perasaan gue saat itu, mungkin penggalan lirik dari Hitomi no Jyuunin ini: 'hitomi ni sundeitai' (I want to reside in your eyes). Gue pengen mereka mengingat apa yang mereka lihat dari stage sebagai sesuatu yang istimewa. Untuk gue sendiri, view di akhir Anata di mana LCD screen bersinar putih terang sampai membuat para personel Laruku di depannya tampak sebagai 4 siluet, udah nggak mungkin lagi lepas dari mata dan otak. L'Arc~en~Ciel has since become my hitomi no jyuunin, the ones who live in my pupils.

Seperti tak puasnya membetot emosi, setelah mengobok-obok hati dengan Anata, terdengarlah intro piano diikuti beat drum yang sangat familiar bagi Cielers Indonesia, tapi bener-bener tak disangka karena sangat jarang dimainkan di tempat lain. Intro tersebut adalah milik the Fourth Avenue Cafe, lagu yang bagi banyak fans, termasuk gue, mengawali penantian mereka akan kedatangan L'Arc~en~Ciel ke Indonesia. Sontak semua orang melonjak-lonjak, lupa akan keletihan masing-masing, dan singalong gila-gilaan. Sejak saat itu, kalo diminta untuk memvisualisasikan idiom 'singing one's heart out', video live lagu inilah yang akan gue pakai. Benar-benar scene yang unforgettable dan incomparable.

Konser mendekati usai, tapi di tengah-tengah lagu berikutnya, Link, Laruku masih sempat menyelipkan jeda agar sang leader sekaligus bassist handal Tetsu bisa menyapa crowd sekaligus melakukan ritualnya yang sudah ditunggu-tunggu, yaitu berbagi pisang dan lolipop, sambil tak lupa melontarkan joke om-om mesum. "KARIAN MAU JIRAT PISANG GUWA?" Teriaknya sebelum melemparkan Mukimpo-kun, begitu 'pisang Tetsu' biasa disebut, ke kerumunan penonton yang seketika berubah jadi sekumpulan simpanse beringas.

Seperti semua tuan rumah yang hebat, yang mengakhiri pesta saat semua orang berada dalam puncak kebahagiaan, Hyde berpamitan--dalam bahasa Indonesia--dan berjanji akan kembali untuk berpesta lagi bersama Cielers Indonesia. "Kami datang ke Indonesia lagi. Ini lagu terakhir...," katanya sebelum melantunkan Niji, diiringi koor massal terakhir dari fans yang keliatan jelas tidak rela menyudahi konser impian tersebut. White feathers--seperti judul salah satu lagu mereka--sungguhan, bukan sekadar CG dalam screen, berjatuhan menghujani Lapangan D, ke arah tangan-tangan yang terulur menggapai.

Mungkin L'Arc~en~Ciel memang malaikat yang memilih melepaskan sayapnya untuk membuat surga kecil di dunia dengan musik mereka. Mungkin. Rasanya tidak terlalu sulit untuk mempercayai itu.



THE SOUVENIRS


Setelah semua member Laruku silam ke balik panggung, gue masih berdiri terpaku di situ selama beberapa saat. Rasanya gue pengen peluk orang-orang yang ada di sekitar gue, yang gue tau merasakan hal yang kurang-lebih sama. Penantian 12 tahun terbayar lunas, tanpa cela. Dan sampai sekarang pun #LarukuJKT masih terasa surreal buat gue.

Banyak momen tak terlupakan di konser itu, seperti speech Hyde sebelum Honey. "Kalian senang bertemu aku? Aku? Aku juga." Sepanjang konser, semua personel Laruku menyapa penonton dengan bahasa Indonesia, kecuali Yukihiro yang memang tidak berbicara sama sekali dan hanya menimpali teman-temannya dengan drumroll 'tratakdush' yang, uhm, memberi sedikit efek ludruk pada konser ini. Skenario Ken yang pergi ke Pasaraya untuk membeli oleh-oleh buat Hyde, yang berujung pada dipaksanya si vokalis untuk main suling--no innuendo intended--di atas panggung, juga bikin gue makin kagum sama mereka. Usia karir 20 tahun dan status superstar tidak menghalangi mereka untuk sepenuh hati berusaha menghibur fans, walaupun setengah mempermalukan diri dengan bahasa Indonesia yang patah-patah dan aneh, dari segi pelafalan maupun substansi. Exempli gratia, "NASI GORENGNYA GOKIR!" dan "gua SuJu dari Korea".

Ludruk di langit. L'Udruk~en~Ciel. Ludruku.
Stage-acts mereka ini akhirnya membuat gue sedikit merevisi pandangan terhadap L'Arc~en~Ciel yang tadinya gue anggap tak tergapai, seperti divine creatures. Iya, mereka memang melindungi privasinya dengan sangat ketat, sehingga susah banget untuk mencari dokumentasi tentang hidup mereka di luar aktivitas Laruku. Tapi melihat selera humor mereka yang sangat... om-om, gue malah jadi mikir, mungkin karena privasi yang dijaga ketat itulah mereka jadi bisa bertumbuh dewasa dan menua layaknya, err, om-om pada umumnya. Dan ini justru bikin gue semakin respek sama mereka, bahwa di balik kostum panggung dan dandanan yang sering dibilang extravagant itu, ada kepribadian yang sangat relatable dan nggak terkesan palsu atau diva, seperti bintang Hollywood dan rockstar barat kebanyakan. Terlebih lagi, mereka nggak berusaha menutupi kepribadian itu, dan malah mengedepankannya di setiap interaksi dengan fans. Mungkin joke-joke mesum dan garing yang mereka lontarkan malam itu lebih berarti bagi gue daripada dapet kesempatan minta tanda tangan tapi melalui konser dengan interaksi yang biasa-biasa saja.

Ini juga salah satu faktor yang bikin temen Helda, cowok berusia 30-an awal, berkesimpulan bahwa #LarukuJKT menaikkan standar pribadinya tentang sebuah konser secara drastis. Kesimpulan itu langsung terbukti saat konser #MorrisseyJKT, delapan hari berikutnya. Walaupun dia mengenal dan ngefans Morrissey jauh lebih dulu daripada ke L'Arc~en~Ciel, konser yang katanya spektakuler juga itu jadi berasa sangat plain buat dia. Dia juga nangis waktu Ken ngomong, "MANTAP! Man man man man man?" Katanya, "you went as far as Blok M, localizing jokes for us, people who listen to you through pirated goods. Man, you made a grown man cry." 

He made a good point. Malam itu, gue dan ribuan fans lain merasa terhibur bukan hanya karena melihat mereka live di depan mata, tapi karena memang mereka melakukan effort untuk menghibur audiensnya. They're not just excellent musicians, that you can conclude by listening to their albums, tapi mereka juga penampil dan penghibur sejati, yang tahu bagaimana berterima kasih terhadap fansnya. Bahkan walaupun Indonesia merupakan fanbase yang besar karena fan-based sharing, dan karenanya berkontribusi sangat sedikit secara materiil terhadap kesuksesan mereka, L'Arc~en~Ciel tetap memberikan yang terbaik. Cara mereka berinteraksi membuat gue bukan cuma merasa 'udah nonton', tapi juga 'udah ketemu' Laruku. Mereka bener-bener mematok standar tinggi bagi live show siapa pun (dan selegendaris apa pun) yang mungkin gue datangi di masa depan.

Lalu, gue udah bilang belum bahwa gue suka banget sama crowd #LarukuJKT? 

Sepertinya gue bilang ratusan kali pun nggak akan cukup. Gue masih inget, bahkan sebelum konser mulai, gue sudah merasa sangat kagum pada crowd ini saat melihat seorang cewek sholat Maghrib di tengah area antrian sebelum masuk Gate 2. Gue juga masih inget dengan jelas perasaan takjub yang muncul saat menoleh ke belakang waktu jalan meninggalkan area VIP, dan menemukan seorang cewek dengan kursi roda di depan barikade yang memisahkan area VIP dengan Premium, memandang ke stage dari atas podium kecil yang dibangun oleh kru khusus buat dia. She was there the whole time. And I was like, fuck.

Lebih dari semua hal yang udah gue deskripsikan di atas, yang membuat gue merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga besar yang luar biasa, gue juga dibuat sangat terharu dengan BLESS PROJECT yang diinisiasi oleh beberapa member @Cielers_ID ini.


Pamflet ini juga menyadarkan gue bahwa banyak fans yang datang ke Lapangan D Senayan dari entah mana aja bukan cuma buat nonton, tapi juga buat menunjukkan rasa terima kasih ke L'Arc~en~Ciel atas musik yang mereka buat selama 20 tahun ini. Walaupun suara peluit ternyata hanya terdengar di sekitar area VIP dan Premium terdepan sehingga banyak Cielers yang tidak ikut menyanyi karena mengira project ini batal, gue mendengar dari seorang teman yang beruntung mendapat posisi di depan stage, bahwa Hyde masih berada di sekitar panggung saat itu dan sepertinya mendengar chants BLESS tersebut. Konon, ekspresinya tampak terharu. Ketika gue denger kabar ini (bahkan sekarang saat gue ngetik), perasaan gue langsung campur aduk dan gue nangis (lagi). Dibandingkan dengan musik yang mereka buat untuk kami para fans, persembahan ini mungkin nggak ada apa-apanya, tapi setidaknya perasaan gue dan fans lain saat itu berhasil tersampaikan, meskipun kecil. Again: PRICELESS.


THE AFTERTASTE

Mengingat setiap detil #LarukuJKT untuk menulis post ini betul-betul menguras emosi. Gue sendiri nggak nyangka, 11 hari setelahnya, gue masih bisa menitikkan air mata setiap kali menonton footage atau mendengarkan setlist konser ini. Bukan semata Laruku-nya yang bikin gue hangover berkepanjangan, tapi semua-muanya konser tersebut. Beberapa orang yang tadinya hanya gue kenal di twitter, semenjak konser Laruku menjadi teman yang sering berbagi tentang banyak hal, kayak Aris dan Atri. Lalu, ikatan yang terjalin antarsesama fans mulai dari mengantri di luar Gate 1 sampai konser selesai, serta ikatan antara fans dan L'Arc~en~Ciel di atas panggung, menghasilkan energi yang luar biasa besar dan hangat, yang bikin gue selalu pengen balik lagi, lagi, dan lagi. Leaving May 2, 2012, is like a one way trip from home. Gue nggak bisa pulang, karena 'rumah' itu berada di tempat yang bukan dipisahkan oleh jarak, tapi oleh waktu. That's why I can't move on from that day, not anytime soon, if ever.

Mungkin di masa depan gue berkesempatan pergi ke live Laruku di negara lain. Tapi gue yakin, experience yang gue dapat nggak akan sama seperti kalo mereka main di sini lagi. Di tempat lain, gue nggak akan bisa berteriak, "HYDE-SAN! ARIGATOU!" dan mendapat jawaban, "terima kasih," dari Hyde sendiri, seperti yang terjadi kemarin. Indonesian audience is truly one of a kind, dengan spontanitas dan kejujuran ekspresinya. Saat Niji berkumandang di Lapangan D, gue bukan hanya nangis karena sedih konser berakhir dan bakal berpisah dengan semua itu, tapi juga senang karena sebelumnya Hyde bilang, "kami akan ke Indonesia lagi," yang berarti gue punya harapan untuk bertemu lagi dengan semuanya. 

Tetsu melemparkan beberapa Mukimpo-kun lagi dan menembakkan pistol air ke arah penonton, kemudian ia pun meninggalkan panggung dalam keadaan kosong. Tapi tidak sebelum ia berteriak, dengan senyum lebar dan lambaian tangan tinggi di udara, "mata ne!" Sampai bertemu lagi.

Pelangi itu akan kembali. And next time, let's make the memories better, for us and for them. 

Mata aimashou, L'Arc~en~Ciel. :)




Dedicated to all Indonesian Cielers and L'Arc~en~Ciel.
(Photo courtesy of Irockumentary, Blog Unikom, Rolling Stones Indonesia and TribunNews)