Senin, 30 Juli 2012

Just Saying...

...that I think this is one of the most beautiful love songs ever written, and definitely is one of '90s finest. Plus, the video features some awesome tits.



"Malibu"
by Hole

Crash and burn, all the stars explode tonight

How'd you get so desperate?
How'd you stay alive?
Help me please, burn the sorrow from your eyes
Oh, come on, be alive again
Don't lay down and die

Hey hey, you know what to do
Oh baby, drive away to Malibu
Get well soon, please don't go any higher
How are you so burnt when you're barely on fire?
Cry to the angels, I'm gonna rescue you
I'm gonna set you free
Tonight baby, pour over me

Hey hey, we're all watching you
Oh baby, fly away to Malibu
Cry to the angels, let them swallow you
Go and part the sea, yeah, in Malibu

And the sun goes down, I watch you slip away
And the sun goes down, I walk into the waves
And the sun goes down, I watch you slip away
And I watch

And I knew love would tear you apart
Oh, and I knew the darkest secret of your heart

Hey hey, I'm gonna follow you
Oh baby, fly away, yeah, to Malibu
Oceans of angels, oceans of stars
Down by the sea is where you drown your scars, oh oh

I can't be near you
The light just radiates
I can't be near you
The light just radiates

Minggu, 10 Juni 2012

Teka-teki McDonald's Indonesia dan Akun Twitter Misterius

Di dunia ini, ada beberapa kejadian yang--entah karena keterbatasan kapasitas berpikir lo atau saking absurdnya kejadian-kejadian tersebut--lo yakin banget sebenernya berhubungan tapi nggak bisa lo jelaskan sendiri. Jadi lo butuh second opinion--entah itu dari temen, senior, cenayang, NASA atau Conan Edogawa--untuk ngejelasin kesalingterkaitan antara fenomena-fenomena ini.

Sayangnya ini bukan tahun 90-an, di mana truth-seekers itu keren,
bukan kutu buku berkepala bolu kukus bantat.

Nah, ada dua kejadian yang gue yakin berhubungan, tapi gue gak yakin gimana. Yang jelas feeling gue nggak enak. Jadi gue harus minta bantuan elo semua buat jelasin.

Jadi gini ceritanya.

Kemaren (Sabtu, 9 Juni 2012), temen gue Liongky makan di McDonald's sektor 9 (Bintaro). Pengalaman nggak menyenangkannya dimulai dengan antrian yang diserobot dan dibiarin aja sama staf. Tapi, namanya juga Jakarta, lo pasti pernah ngalamin juga yang begini. Wajar lah. Maka, insiden antrian diikhlaskan walau godaan untuk baku tampol sangat besar. Lagipula, selang beberapa menit kemudian dia udah bisa duduk dan makan di smoking area restoran tersebut.

Masalah baru bermulai saat Liongky baru makan setengah jalan, tiba-tiba dateng staf McD minta area itu dikosongkan karena mau dipake buat nobar Euro. Jadi dia diusir waktu lagi makan, dan kalo mau di tempat itu terus, dia harus pesen lagi. Pesen paket upsize, lebih tepatnya. Dan ini tentu aja nggak masuk akal karena Liongky udah pesen dan lagi makan di tempat itu--I mean, dia bukannya lagi nongkrong-nongkrong gak jelas aja di area nobar. Ini nggak beda jauh lah dari nahan boker dua jam, dan saat akhirnya alhamdulillah bisa menunaikan hajat, mendadak alarm kebakaran bunyi. Pas bener pas lagi nanggung.

Gue gak ngerti abis itu gimana ceritanya, tapi gue bayangin Liongky langsung males dan pergi dari situ, lalu memilih untuk komplain lewat twitter. Gimana ngamuknya si Liongky ke McDonald's bisa lo liat di sini. Seandainya gue yang ngalamin, mungkin gue juga bakal sengamuk itu. Gue sempet menyebarluaskan masalah ini di timeline twitter gue, dan dapet beberapa tanggapan yang intinya kaget franchise sebesar McD bisa kayak gitu. 


Cuman, yang aneh adalah tadi siang (Minggu, 10 Juni 2012), gue bangun tidur dan mendapati mention-mention aneh dari sebuah akun bernama @darkmatterz yang bernada menjelek-jelekkan semua orang  yang mereply tweet gue di atas dengan komentar negatif ke McDonald's. Setelah gue cek itu akun, ternyata usianya juga belum ada setengah hari, dan 7 dari 8 tweet isinya cuma menanggapi mention negatif ke McDonald's.

Tentu aja, waktu dikonfrontasi sama Liongky ke akun resmi McDonald's Indonesia yaitu @McDonalds_ID, mereka nggak tahu apa-apa dan dengan lugunya mengira dia temennya Liongky. Ya iyalah, soalnya nggak mungkin banget kan perusahaan sebesar McDonald's melakukan hal rendah kayak bikin akun nggak jelas untuk menghina dan mengintimidasi publik termasuk orang yang kecewa sama pelayanannya? 


Ya walaupun ngusir pelanggan yang lagi makan juga udah cukup rendah, tapi nggak mungkin serendah itu kan? Atau mungkin akun ini adalah konspirasi Yahudi-Amerika yang ingin memecah-belah bangsa lewat jaringan restoran waralaba, karena agen mereka yang terakhir sudah berhasil diusir oleh idol group nan kharismatis ini?

Kyaaaaa~~ desu.
Jadi gimana penjelasan yang masuk akal menurut kalian? Apakah @darkmatterz hanyalah seorang pengguna baru twitter yang kebetulan penggemar berat McD, sehingga segera setelah sign-up dia langsung search semua tweet yang berhubungan dengan McDonald's Indonesia? Atau memang McDonald's berafiliasi dengan Illuminati atau Tarekat Mason Bebas dan @darkmatterz ini adalah agen rahasianya sehingga si Liongky sekarang harus nyewa bodyguard atau operasi plastik dan pindah ke Vanuatu?

Tolong ya bantuin gue mikir. Gue penasaran banget sama hubungan antara McDonald's dan @darkmatterz ini. Soalnya ngeliat fotonya tampaknya dia bukan orang Indonesia, tapi kok bisa bahasa Indonesia dan username-nya serem gitu. Udah gitu setelah Liongky cerita dia ditelpon sama store manager McDonald's Indonesia jam 7 tadi, mendadak semua tweet @darkmatterz yang berhubungan sama McDonald's hilang secara misterius, tinggal tersisa satu tweet!

Kira-kira gue perlu ikut operasi plastik dan eksodus juga, nggak? 8'(

Minggu, 13 Mei 2012

#LarukuJKT: Moment-by-Moment Recollection of a 12 Years-Old Dream



THE BEGINNING

Semuanya berawal dari tweet manajer L'Arc~en~Ciel tahun lalu.


Sejak tahun 2005, rumor tentang kedatangan band favorit gue ini udah seliweran, tapi nggak pernah ada yang bisa dipertanggungjawabkan. "Tahun depan, tahun depan, tahun depan." Bahkan hashtag #LarukuJKT sudah terlacak di twitter sejak tahun 2010. False alarm yang berulangkali mengangkat emosi sampai ke tingkat euforia, lalu akhirnya lewat begitu saja sebagai kabar burung belaka. Tapi gue punya harapan jauh lebih besar pada frase 'tahun depan' kali itu karena adanya tweet di atas, makanya gue mulai nabung untuk entah tanggal berapa di tahun 2012 Laruku--begitu mereka biasa disebut oleh lidah Jepang--betul-betul menggelar konser di Indonesia.

Dan walaupun udah siap-siap sejak beberapa bulan sebelumnya, kemunculan tweet ini tetap membuat gue merinding sekujur tubuh dan nyaris nangis saat itu juga.




Entah saking tingginya gue memandang L'Arc~en~Ciel atau gimana, eksistensi mereka buat gue hampir seperti superhero di komik-komik yang nggak mungkin gue temui di kehidupan nyata, dan video konser mereka yang selama ini gue tonton seolah bertempat di dimensi parallel yang nggak terjangkau. Bayangan bahwa gue bisa berdiri di depan panggung konser Laruku, bisa saling melihat dan mendengar dengan keempat personelnya secara langsung walaupun hanya sebagai satu di antara ribuan titik yang menyublim dalam singalong massal, terasa surreal buat gue, bahkan absurd.

Maka, mohon pengertiannya kalo cerita ini sangat panjang, sentimentil atau bahkan lebay, karena gue pengen mendokumentasikan setiap detil emosi yang gue rasakan tentang #LarukuJKT, which is the best day in my life so far.


THE JOURNEY AND THE FELLOWS

Seperti sebagian besar fans mereka di sini, gue pertama kali jatuh cinta sama Laruku waktu SD, pada lagu 4th Avenue Cafe yang diputar sebagai ending theme anime Rurouni Kenshin yang ditayangkan oleh SCTV dengan judul Samurai X. Setelah itu, bisa dibilang gue tumbuh bersama Laruku. Membentuk band yang mengcover lagu-lagu mereka saat kelas 3 SMP di mana gue main sebagai keyboardist (lagu mereka yang pertama gue cover adalah Winterfall, Honey dan Driver's High). Mencari terjemahan lirik lagu-lagu mereka di internet dan menyimpulkan bahwa Hyde adalah salah satu penulis lirik terbaik yang gue tahu. Mendapat jatah album Heart dalam acara Tribute to L'Arc~en~Ciel di Jogja tahun 2005, event pertama yang meyakinkan gue bahwa konser Laruku di Indonesia pasti akan memiliki crowd yang luar biasa. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Selagi mengingat masa-masa itu, dalam sekejap mata tiga bulan terlewati, lalu tiba-tiba gue udah berdiri di luar Gate 1 venue 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour Jakarta, Lapangan D Senayan, bersama orang-orang ini.



Saat itu masih pukul 15.00. Gate 1 dibuka pukul 16.00 dan yang ngantri di luar udah bangsat penuhnya kayak gitu. Sedikit menyesal karena nggak dateng lebih cepat, tapi perasaan itu juga pupus melihat antusiasme penonton lain. Ada sekelompok cewek berjilbab yang membuat video rekaman mereka menyanyikan reff lagu Anata bersama-sama, ada yang cosplay bergaya gothic lolita (yang terus terang pengen gue sobek-sobek bajunya, bukan apa-apa, PANAS GILA liatnya), ada yang saling telponan sama temennya yang datang dari kota berbeda supaya bisa saling ketemu. Ribuan orang ini datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk melihat Laruku secara langsung, bahkan ada yang sengaja terbang dari Melbourne seperti Bintang, salah satu anggota rombongan jamaah Larukuiyah gue.

Antusiasme para fans ini bikin gue merinding. Belum lagi mengingat perjuangan mendapatkan tiket yang mengikat gue dan beberapa teman lain dalam satu whatsapp group bernama Concert Vigilontes--no, it's not a typo--yang dinamakan demikian karena hasrat pengen kebiri setiap calo yang bikin tiket jadi cepet abis dan mahal. Gue yakin, Marygops Studios, promotor konser ini, juga nggak menyangka akan dapet sambutan segini besar.

Yang jelas, selain Laruku-nya sendiri, salah satu hal paling menyenangkan dan memorable dari konser ini adalah crowd-nya. Misalnya, saat area konser sudah mulai penuh namun masih ada waktu satu setengah jam sampai konser dimulai, crowd yang mati gaya akhirnya kompak trolling dengan bersorak dan bertepuk tangan keras-keras setiap ada kru yang lewat di atas panggung sampe mereka bingung dan akhirnya menuju backstage dengan malu-malu (kata Helda di blognya, "tak ada Laruku, Larukru pun jadi."). Lalu saat teriak-teriak, "OISHI-SAAAN!" waktu si manajer yang gemar foto-foto itu mengambil gambar penonton dari atas panggung dan bikin gue mikir, apa ada hari gini fandom yang segini apalnya sama manajer sebuah band (selain Slank, mungkin). Gue juga inget waktu nunggu Gate 2 dibuka dan kaki mulai berasa gempor, ada cewek di belakang gue yang ngasih koran buat alas duduk. Ada juga cewek yang berdiri di belakang gue saat konser, yang bantuin gue dan Helda pake jas hujan sebelum konser mulai. Hari itu, sungguh gue nggak peduli siapa berasal dari mana dan seperti apa orang itu di kesehariannya, kapan dia mulai suka Laruku dan kenapa, atau tetek-bengek lainnya. Semakin lama gue menghabiskan waktu bersama orang-orang asing ini, gue makin ngerasa bahwa kita seperti satu keluarga besar yang merindukan sesuatu yang sama. Dan ini membuat gue paham kenapa ada yang menyamakan konser band idola dengan ibadah haji.

"JAMA'AAAAAAAAARC!!!" 
Terus terang, sebelum konser itu dimulai, gue sendiri nggak ngerti seberapa besar rasa suka gue ke L'Arc~en~Ciel. Ya, gue menghabiskan lebih dari separuh umur bersama Laruku, menghabiskan jutaan rupiah untuk beli tiket konser dan perjalanan Jogja-Jakarta PP, memaki J-Rocks secara terbuka di majalah Trax karena terang-terangan menjiplak Laruku dan menjadikan "musik yang mirip L'Arc~en~Ciel" sebagai definisi genre J-Rock, dan masih banyak lagi. Tapi setelah LED screen segede Godzilla di latar panggung--yang awalnya gue kira backdrop hitam biasa--menyala dan menampilkan film pembuka 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour dan menyadarkan gue bahwa #LarukuJKT bukan mimpi, gue spontan nangis sejadi-jadinya, bahkan sebelum keempat personel Laruku keluar. Lalu gue tersadar bahwa gue memang cinta, bukan hanya sekedar mengidolakan band ini.

Saat itu, rasanya seperti kenangan bertumbuh bersama dan menunggu L'Arc~en~Ciel selama 12 tahun meluap, terkondensasi, lalu tumpahlah dalam bentuk air mata. Hasilnya, waktu screen meredup dan lampu sorot menampilkan sosok Hyde, Tetsu, Ken dan Yukihiro di panggung memainkan lagu Ibara no Namida, gue singalong sambil sesenggukan. Satu tangan terangkat mengacungkan lightstick, satunya menutupi setengah muka dengan handuk/shawl yang gue dapat dari VIP package. Absurd. Dan, gue yakin, pasti nampak imbisil. Tapi gue bahagia.


THE 3 HOURS THAT LINGER

Setelah Ibara no Namida, berturut-turut CHASE dan GOOD LUCK MY WAY dibawakan, semuanya disambut koor Cielers Indonesia yang terbilang unik, karena di footage konser Laruku di tempat lain gue nggak pernah nemu crowd yang nyanyi mulai dari awal sampai akhir lagu, di setiap lagu yang dibawakan. Dan begitu juga menurut salah satu teman yang sudah mengalami beberapa konser Laruku sebelumnya. Walaupun memang harus diakui, koor itu terdengar jauh lebih keras saat lagu-lagu dari album lama dimainkan, seperti pada lagu keempat, Honey.



Setelah Honey, DRINK IT DOWN dan Revelation menyusul mengiringi crowd yang jejingkrakan seolah nggak ada capeknya, padahal banyak yang udah berdiri dalam cuaca luar biasa panas selama enam jam, bahkan lebih. Tapi energi bukannya berkurang, malah seperti makin bertambah, seperti saat menimpali intro drum Revelation dengan teriakan "OI!" berulang-ulang. Dan seperti tahu kondisi penontonnya, setelah itu Ken, Tetsu dan Hyde pun duduk di tengah panggung, memberi tanda bahwa mereka akan memainkan sebuah ballad. Dan mengalunlah intro Hitomi no Jyuunin. Lampu sorot meredup, dan penonton berubah menjadi lautan cahaya warna-warni dari lightstick yang mereka lambaikan. Kali ini gue nggak nangis sendirian, karena di sekeliling gue, termasuk mas-mas bertampang metal di sebelah kanan, juga singalong sambil berlinang air mata. Mungkin video ini bisa menggambarkan suasana saat itu, karena kata-kata jelas nggak cukup.

Setelah puas megap-megap karena teriak-teriak sambil nangis, crowd langsung diangkat lagi dengan XXX yang cukup bikin radar seksual para cowok jadi agak noise karena goyangan Hyde yang memang xxx, sesuai judul lagunya. Aris, temen sekaligus anggota embarkasi Jateng-DIY jemaah Larukuiyah di sebelah gue, menggambarkannya dengan tepat: "harusnya Maroon 5 bikin lagu Moves Like Hyde." Bulls-eye!

Sehabis suguhan audiovisual menghanyutkan itu, emosi Cielers langsung dibanting lagi oleh Fate yang dibawakan back-to-back dengan Forbidden Lover. Pada saat ini, gue udah tereduksi menjadi gumpalan air mata karena, bisa dibilang, melihat Fate dimainkan secara live oleh Laruku adalah permintaan yang bahkan nggak berani gue ucapkan karena terkesan terlalu muluk. It's my absolute favorite of all L'Arc~en~Ciel songs, yet it's an old song from their 5th album and it's not even a single. Gue masih inget nonton versi live lagu ini di VCD (yes, VCD) REALIVE 2000, duduk memeluk dengkul dan nangis di depan monitor. Jangan tanya gimana bentuk gue pas lagu itu dimainin di #LarukuJKT kemaren, gue udah nggak ngerti lagi. Apalagi dengan tanpa ampunnya lagu itu disambung dengan Forbidden Lover yang nyaris selalu bikin Hyde menangis saat menyanyikannya. And yes, he did during the song in Jakarta, dan gue rasa semua orang yang melihat perubahan matanya mulai dari jernih, berkaca-kaca, sampai akhirnya meneteskan air mata lewat screen besar di belakang panggung nggak akan lupa momen itu.



Kelar bertangisan massal, Ken mengisi jeda dengan solo bluesy yang sangat clean dan lumayan bikin misuh-misuh, yang langsung disambung dengan MY HEART DRAWS A DREAM. Lagi-lagi di tengah lagu ini ada momen bikin merinding ke-entahberapa, yaitu saat penonton chanting 'yume wo egaku yo' (lit. I draw a dream) berulang-ulang dengan backdrop screen menampilkan lautan tangan yang mengangkat lightstick atau membentuk sign "L", seolah melukiskan mimpi mereka yang menjadi kenyataan, yaitu bernyanyi dan bersenang-senang bersama Laruku. Di titik ini, gue mulai bertanya-tanya, bisa nggak seseorang mati dehidrasi karena kehabisan air mata, soalnya frekuensi dan intensitas nangis gue di konser ini udah melebihi seluruh episode sinetron Naysilla Mirdad dikompresi ke dalam durasi satu jam, dan Laruku baru memainkan sebelas lagu.

Untungnya, SEVENTH HEAVEN langsung mengajak Cielers berpesta lagi setelah itu, lengkap dengan tembakan confetti ke udara yang seketika membuat penglihatan dipenuhi pita-pita warna-warni. Suasana makin menggila saat sound effect mesin mobil yang dinyalakan terdengar, pertanda Driver's High akan dimainkan. Penonton Indonesia kembali menunjukkan reputasi hiperaktifnya dengan chants "OI!" berulang ketika intro, juga seruan "CLASH!" dan "FLASH!" di reff yang dibarengi loncatan. Di lagu ini pula sesuatu yang sangat langka terjadi, yaitu Hyde menyodorkan mic dan membiarkan crowd menyanyikan bagian bridge secara penuh, bahkan tampak girang sendiri saat melakukannya. Menyaksikan ini secara langsung betul-betul priceless! Makin priceless lagi saat gue nengok ke kiri dan ngeliat si Aris lagi sesenggukan. Bener-bener salah gaya. Mestinya ini lagu yang optimis dan semangat, eh doi malah mewek. But it's sweet, though, because it shows that every L'Arc song has a different meaning to each one of their fans. 8')



Seolah nggak mau kehilangan momen, solo performance Tetsu yang simpel tapi cukup bikin fanboys & fangirls histeris tampil mendahului lagu selanjutnya, STAY AWAY, yang tentu saja disambut koor membahana seisi Lapangan D. Pada interlude di tengah lagu ini, crowd melakukan synchronized clapping mengiringi beat drum Yukki, sambil tetap singalong tentunya, because that's what we did throughout the show. Di tengah-tengah clapping itu gue mendadak merasa berada dalam sebuah magical moment karena tanpa menoleh ke belakang, gue tahu seven-fuckin-thousands other people sedang melakukan hal yang sama. 'Epic' is an understatement.

Ready Steady Go dan kembang api besar yang memancar dari panggung serta solo drum Yukihiro menutup bagian pertama pesta Cielers, karena para personel Laruku kemudian menghilang ke balik panggung, memancing penonton untuk memanggil mereka kembali untuk encore. And called for them we did, berulang-ulang, dengan berbagai macam chants, mulai dari 'we want more' sampai 'encore'.



Setelah 10 menit yang terasa bagai berjam-jam karena perpaduan dari rasa nggak sabaran dan keletihan yang semakin menggempur, entah dimulai dari mana, reffrain Anata dinyanyikan oleh crowd, tanpa henti, bahkan semakin lama semakin keras. Gue agak khawatir encore dibatalkan karena hujan mulai turun lagi, tapi tampaknya kecemasan itu nggak beralasan, karena tidak ada seorang pun penonton yang kelihatan mau beranjak atau berhenti bernyanyi sebelum Laruku kembali dan menuntaskan encore-nya. Sebenernya saat itu gue sendiri udah nyaris nggak kuat karena darah rendah, dehidrasi dan maag, sampe akhirnya terpaksa jongkok untuk memulihkan diri walaupun sedikit. Tapi dalam keadaan meringkuk gitu pun gue tetep ngotot ikut nyanyi terus, sampe kuat berdiri lagi. Ternyata di sekitar gue juga penuh dengan muka-muka kecapekan, tapi mereka tetep nyanyi walaupun harus sambil menengadah karena kehabisan napas setelah terus-terusan berdiri di tengah kerumunan. Saat menulis ini, gue bertanya-tanya, sihir macam apa yang bisa menggerakkan tekad begitu banyak orang, termasuk gue, yang seandainya dalam peristiwa lain pasti udah pingsan dari kapan tau.

Sekonyong-konyong terdengar suara piano yang diikuti jeritan crowd. Screen kembali menyala, menampilkan lirik reffrain Anata, disusul synth yang mengiringi nyanyian ribuan Cielers di bawah hujan. Dan gue kembali tercekik air mata sendiri. Merinding, sudah pasti. Terlebih saat Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki kembali dengan outfit serba putih dan memainkan Anata. Liriknya yang sangat heartfelt itu seolah jadi cara L'Arc~en~Ciel dan Cielers saling menyampaikan makna pihak satunya bagi masing-masing diri mereka. 
胸にいつの氷見も輝く あなたがいるから
Mune ni itsu no hi ni mo kagayaku, anata ga iru kara
(It will shine eternally in my heart, because you are here) 
涙彼果てても大切な あなたがいるから
Namida karehatete mo taisetsu na anata ga iru kara 
(Even if tears run dry, it will stay precious, because you are here)
Kalo ada kalimat yang paling menggambarkan perasaan gue saat itu, mungkin penggalan lirik dari Hitomi no Jyuunin ini: 'hitomi ni sundeitai' (I want to reside in your eyes). Gue pengen mereka mengingat apa yang mereka lihat dari stage sebagai sesuatu yang istimewa. Untuk gue sendiri, view di akhir Anata di mana LCD screen bersinar putih terang sampai membuat para personel Laruku di depannya tampak sebagai 4 siluet, udah nggak mungkin lagi lepas dari mata dan otak. L'Arc~en~Ciel has since become my hitomi no jyuunin, the ones who live in my pupils.

Seperti tak puasnya membetot emosi, setelah mengobok-obok hati dengan Anata, terdengarlah intro piano diikuti beat drum yang sangat familiar bagi Cielers Indonesia, tapi bener-bener tak disangka karena sangat jarang dimainkan di tempat lain. Intro tersebut adalah milik the Fourth Avenue Cafe, lagu yang bagi banyak fans, termasuk gue, mengawali penantian mereka akan kedatangan L'Arc~en~Ciel ke Indonesia. Sontak semua orang melonjak-lonjak, lupa akan keletihan masing-masing, dan singalong gila-gilaan. Sejak saat itu, kalo diminta untuk memvisualisasikan idiom 'singing one's heart out', video live lagu inilah yang akan gue pakai. Benar-benar scene yang unforgettable dan incomparable.

Konser mendekati usai, tapi di tengah-tengah lagu berikutnya, Link, Laruku masih sempat menyelipkan jeda agar sang leader sekaligus bassist handal Tetsu bisa menyapa crowd sekaligus melakukan ritualnya yang sudah ditunggu-tunggu, yaitu berbagi pisang dan lolipop, sambil tak lupa melontarkan joke om-om mesum. "KARIAN MAU JIRAT PISANG GUWA?" Teriaknya sebelum melemparkan Mukimpo-kun, begitu 'pisang Tetsu' biasa disebut, ke kerumunan penonton yang seketika berubah jadi sekumpulan simpanse beringas.

Seperti semua tuan rumah yang hebat, yang mengakhiri pesta saat semua orang berada dalam puncak kebahagiaan, Hyde berpamitan--dalam bahasa Indonesia--dan berjanji akan kembali untuk berpesta lagi bersama Cielers Indonesia. "Kami datang ke Indonesia lagi. Ini lagu terakhir...," katanya sebelum melantunkan Niji, diiringi koor massal terakhir dari fans yang keliatan jelas tidak rela menyudahi konser impian tersebut. White feathers--seperti judul salah satu lagu mereka--sungguhan, bukan sekadar CG dalam screen, berjatuhan menghujani Lapangan D, ke arah tangan-tangan yang terulur menggapai.

Mungkin L'Arc~en~Ciel memang malaikat yang memilih melepaskan sayapnya untuk membuat surga kecil di dunia dengan musik mereka. Mungkin. Rasanya tidak terlalu sulit untuk mempercayai itu.



THE SOUVENIRS


Setelah semua member Laruku silam ke balik panggung, gue masih berdiri terpaku di situ selama beberapa saat. Rasanya gue pengen peluk orang-orang yang ada di sekitar gue, yang gue tau merasakan hal yang kurang-lebih sama. Penantian 12 tahun terbayar lunas, tanpa cela. Dan sampai sekarang pun #LarukuJKT masih terasa surreal buat gue.

Banyak momen tak terlupakan di konser itu, seperti speech Hyde sebelum Honey. "Kalian senang bertemu aku? Aku? Aku juga." Sepanjang konser, semua personel Laruku menyapa penonton dengan bahasa Indonesia, kecuali Yukihiro yang memang tidak berbicara sama sekali dan hanya menimpali teman-temannya dengan drumroll 'tratakdush' yang, uhm, memberi sedikit efek ludruk pada konser ini. Skenario Ken yang pergi ke Pasaraya untuk membeli oleh-oleh buat Hyde, yang berujung pada dipaksanya si vokalis untuk main suling--no innuendo intended--di atas panggung, juga bikin gue makin kagum sama mereka. Usia karir 20 tahun dan status superstar tidak menghalangi mereka untuk sepenuh hati berusaha menghibur fans, walaupun setengah mempermalukan diri dengan bahasa Indonesia yang patah-patah dan aneh, dari segi pelafalan maupun substansi. Exempli gratia, "NASI GORENGNYA GOKIR!" dan "gua SuJu dari Korea".

Ludruk di langit. L'Udruk~en~Ciel. Ludruku.
Stage-acts mereka ini akhirnya membuat gue sedikit merevisi pandangan terhadap L'Arc~en~Ciel yang tadinya gue anggap tak tergapai, seperti divine creatures. Iya, mereka memang melindungi privasinya dengan sangat ketat, sehingga susah banget untuk mencari dokumentasi tentang hidup mereka di luar aktivitas Laruku. Tapi melihat selera humor mereka yang sangat... om-om, gue malah jadi mikir, mungkin karena privasi yang dijaga ketat itulah mereka jadi bisa bertumbuh dewasa dan menua layaknya, err, om-om pada umumnya. Dan ini justru bikin gue semakin respek sama mereka, bahwa di balik kostum panggung dan dandanan yang sering dibilang extravagant itu, ada kepribadian yang sangat relatable dan nggak terkesan palsu atau diva, seperti bintang Hollywood dan rockstar barat kebanyakan. Terlebih lagi, mereka nggak berusaha menutupi kepribadian itu, dan malah mengedepankannya di setiap interaksi dengan fans. Mungkin joke-joke mesum dan garing yang mereka lontarkan malam itu lebih berarti bagi gue daripada dapet kesempatan minta tanda tangan tapi melalui konser dengan interaksi yang biasa-biasa saja.

Ini juga salah satu faktor yang bikin temen Helda, cowok berusia 30-an awal, berkesimpulan bahwa #LarukuJKT menaikkan standar pribadinya tentang sebuah konser secara drastis. Kesimpulan itu langsung terbukti saat konser #MorrisseyJKT, delapan hari berikutnya. Walaupun dia mengenal dan ngefans Morrissey jauh lebih dulu daripada ke L'Arc~en~Ciel, konser yang katanya spektakuler juga itu jadi berasa sangat plain buat dia. Dia juga nangis waktu Ken ngomong, "MANTAP! Man man man man man?" Katanya, "you went as far as Blok M, localizing jokes for us, people who listen to you through pirated goods. Man, you made a grown man cry." 

He made a good point. Malam itu, gue dan ribuan fans lain merasa terhibur bukan hanya karena melihat mereka live di depan mata, tapi karena memang mereka melakukan effort untuk menghibur audiensnya. They're not just excellent musicians, that you can conclude by listening to their albums, tapi mereka juga penampil dan penghibur sejati, yang tahu bagaimana berterima kasih terhadap fansnya. Bahkan walaupun Indonesia merupakan fanbase yang besar karena fan-based sharing, dan karenanya berkontribusi sangat sedikit secara materiil terhadap kesuksesan mereka, L'Arc~en~Ciel tetap memberikan yang terbaik. Cara mereka berinteraksi membuat gue bukan cuma merasa 'udah nonton', tapi juga 'udah ketemu' Laruku. Mereka bener-bener mematok standar tinggi bagi live show siapa pun (dan selegendaris apa pun) yang mungkin gue datangi di masa depan.

Lalu, gue udah bilang belum bahwa gue suka banget sama crowd #LarukuJKT? 

Sepertinya gue bilang ratusan kali pun nggak akan cukup. Gue masih inget, bahkan sebelum konser mulai, gue sudah merasa sangat kagum pada crowd ini saat melihat seorang cewek sholat Maghrib di tengah area antrian sebelum masuk Gate 2. Gue juga masih inget dengan jelas perasaan takjub yang muncul saat menoleh ke belakang waktu jalan meninggalkan area VIP, dan menemukan seorang cewek dengan kursi roda di depan barikade yang memisahkan area VIP dengan Premium, memandang ke stage dari atas podium kecil yang dibangun oleh kru khusus buat dia. She was there the whole time. And I was like, fuck.

Lebih dari semua hal yang udah gue deskripsikan di atas, yang membuat gue merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga besar yang luar biasa, gue juga dibuat sangat terharu dengan BLESS PROJECT yang diinisiasi oleh beberapa member @Cielers_ID ini.


Pamflet ini juga menyadarkan gue bahwa banyak fans yang datang ke Lapangan D Senayan dari entah mana aja bukan cuma buat nonton, tapi juga buat menunjukkan rasa terima kasih ke L'Arc~en~Ciel atas musik yang mereka buat selama 20 tahun ini. Walaupun suara peluit ternyata hanya terdengar di sekitar area VIP dan Premium terdepan sehingga banyak Cielers yang tidak ikut menyanyi karena mengira project ini batal, gue mendengar dari seorang teman yang beruntung mendapat posisi di depan stage, bahwa Hyde masih berada di sekitar panggung saat itu dan sepertinya mendengar chants BLESS tersebut. Konon, ekspresinya tampak terharu. Ketika gue denger kabar ini (bahkan sekarang saat gue ngetik), perasaan gue langsung campur aduk dan gue nangis (lagi). Dibandingkan dengan musik yang mereka buat untuk kami para fans, persembahan ini mungkin nggak ada apa-apanya, tapi setidaknya perasaan gue dan fans lain saat itu berhasil tersampaikan, meskipun kecil. Again: PRICELESS.


THE AFTERTASTE

Mengingat setiap detil #LarukuJKT untuk menulis post ini betul-betul menguras emosi. Gue sendiri nggak nyangka, 11 hari setelahnya, gue masih bisa menitikkan air mata setiap kali menonton footage atau mendengarkan setlist konser ini. Bukan semata Laruku-nya yang bikin gue hangover berkepanjangan, tapi semua-muanya konser tersebut. Beberapa orang yang tadinya hanya gue kenal di twitter, semenjak konser Laruku menjadi teman yang sering berbagi tentang banyak hal, kayak Aris dan Atri. Lalu, ikatan yang terjalin antarsesama fans mulai dari mengantri di luar Gate 1 sampai konser selesai, serta ikatan antara fans dan L'Arc~en~Ciel di atas panggung, menghasilkan energi yang luar biasa besar dan hangat, yang bikin gue selalu pengen balik lagi, lagi, dan lagi. Leaving May 2, 2012, is like a one way trip from home. Gue nggak bisa pulang, karena 'rumah' itu berada di tempat yang bukan dipisahkan oleh jarak, tapi oleh waktu. That's why I can't move on from that day, not anytime soon, if ever.

Mungkin di masa depan gue berkesempatan pergi ke live Laruku di negara lain. Tapi gue yakin, experience yang gue dapat nggak akan sama seperti kalo mereka main di sini lagi. Di tempat lain, gue nggak akan bisa berteriak, "HYDE-SAN! ARIGATOU!" dan mendapat jawaban, "terima kasih," dari Hyde sendiri, seperti yang terjadi kemarin. Indonesian audience is truly one of a kind, dengan spontanitas dan kejujuran ekspresinya. Saat Niji berkumandang di Lapangan D, gue bukan hanya nangis karena sedih konser berakhir dan bakal berpisah dengan semua itu, tapi juga senang karena sebelumnya Hyde bilang, "kami akan ke Indonesia lagi," yang berarti gue punya harapan untuk bertemu lagi dengan semuanya. 

Tetsu melemparkan beberapa Mukimpo-kun lagi dan menembakkan pistol air ke arah penonton, kemudian ia pun meninggalkan panggung dalam keadaan kosong. Tapi tidak sebelum ia berteriak, dengan senyum lebar dan lambaian tangan tinggi di udara, "mata ne!" Sampai bertemu lagi.

Pelangi itu akan kembali. And next time, let's make the memories better, for us and for them. 

Mata aimashou, L'Arc~en~Ciel. :)




Dedicated to all Indonesian Cielers and L'Arc~en~Ciel.
(Photo courtesy of Irockumentary, Blog Unikom, Rolling Stones Indonesia and TribunNews)

Kamis, 26 April 2012

A bit of why I love ATMOSPHERE.

Gue orang yang mudah terhibur. Itu jelas. Makanya hiburan-hiburan murah dan 'tidak berselera' (menurut anggapan umum) justru banyak yang gue suka. Tapi bukan berarti gue nggak bisa mengapresiasi sesuatu yang dipikirkan dengan hati-hati dan terkalkulasi. Intinya, kalo apa yang gue tangkap dengan panca-indera gue sampe ke hati, kemungkinan gue akan suka sama entah apa pun hal yang gue tangkap itu.

Slug dan Ant, dua orang yang tergabung dalam grup hip hop Atmosphere, adalah sedikit dari beberapa orang yang melakukan hal-hal sederhana dengan penuh perhitungan, tanpa terasa 'kaku' dan tetap terdengar jujur. Contohnya bisa lo liat dari lagu Fuck You Lucy. Perhatikan lirik, sampling, sampe emosi di setiap suku kata yang keluar dari mulut Slug. Sebelum dengerin mereka, gue nggak menyangka lirik tentang "dikecewain sama cewek yang gue cinta banget sampe gue cuma bisa maki-maki dia karena gue nggak tau lagi mesti ngapain" bisa terdengar luar biasa jenius, sakit, dan mancing emosi tanpa harus mendayu-dayu.

Mungkin karena gue terbiasa denger yang begini, mulai di rumah, di warteg sampe di WC umum.

Gue nggak bisa dan nggak perlu menjelaskan lebih jauh, karena lo pasti akan ngerti maksud gue setelah lo dengerin sendiri lagu yang gue sebut tadi dan baca liriknya. Too bad they're not that famous here, compared to people rambling about how they know they're sexy or some faux-gangsta with metal teeth.


Fuck You Lucy
Atmosphere

Leave me never would you, you show could I if [6x]

She said that she still wants a friendship
She can't live her life without me as a friend
I can't figure out why I'd give a damn to what she wants
I don't understand the now before the then

Most of this garbage I write
That these people seem to like
Is about you
And how I let you infect my life
And if they got to know you
I doubt that they would see it
They'd wonder what i showed you
How you could leave it
A friend in Chicago said that I should stay persistent
If I stay around I'm bound to break resistance
Fuck you, Lucy, for defining my existence
Fuck you and your differences

Ever since I was a young lad
With a part-time dad
It was hard to find happiness inside of what I had
I studied my mother
I digested her pain
And vowed no woman on my path would have to walk the same
Travel like sound across the fate ladder
I travel with spoon to mix this cake batter
And i travel with feels so i can deal with touch
It's like that
Thank you very much
Fuck you very much

Yes
Yes it is

And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Yes
Yes it is

And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Fuck the what happened
I got stuck
They can peel pieces of me off the grill of her truck
Used to walk with luck
Used to hold her hand
Fell behind and played the role of a slower man
I wanna stand on top of this mountain and yell
I wanna wake up and break up this lake of hell
I feel like a bitch for letting the sheet twist me up
The last star fighter is wounded time to give it up
On a pick it up mission
Kept it bitter
Getting in a million memories just to forget her
The difficulty in keeping emotions controlled
Cookies for the road
Took me by the soul
Hunger for the drama
Hunger for the nurture
Gonna take it further
The hurt feels like murder
Interpret
The eyes
Read the lines on her face
The sunshine is fake
How much time did i waste?
Fuck you, Lucy, for leaving me
Fuck you, Lucy, for not needin' me
I wanna say fuck you
Because i still love you
No, I'm not OK
And I don't know what to do

Yes
Yes it is

And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Yes
Yes it is
And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Do I sound mad?
Well I guess I'm a little pissed
Every action has a point
Five points make a fist
You close 'em
You swing 'em
It hurts when it hits
And the truth can be a bitch
But if the boot fits
I got an idea
You should get a tattoo that says "Warning"
That's all, just a warning
So the potential victim
Can take a left and safe breath
And avoid you
Sober and upset in the morning
I wanna scream "Fuck you, Lucy!"
But the problem is I love you, Lucy
So instead
I'm gonna finish my drink and have another
While you think about how you used to be my lover
(Fuck you)

Yes
Yes it is

And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Yes
Yes it is

And everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love
Everyone in his life would mistake it as love

Leave never would you, you show could I if...


Jumat, 30 Maret 2012

Satu alasan kecil kenapa cara lo make twitter itu penting.

Timeline twitter gue lagi ribut karena demonstrasi nolak kenaikan harga BBM di daerah Diponegoro dan (terutama) Salemba, Jakarta, rusuh. Seperti biasa gue menahan diri untuk nggak komentar karena selain nambah-nambahin panas suasana, gue juga nggak ngikutin banget beritanya. Soalnya gue nggak nonton TV dan lebih suka baca koran besok paginya. Menurut gue, berita di koran cetak lebih bisa dipertanggungjawabkan karena ada jarak antara waktu reportase, penulisan dan naik cetak, nggak kayak berita di media online dan live TV yang terkesan instan dan minim supervisi. Belum lagi pengaruh adrenalin si reporter sendiri yang mungkin aja bikin dia jadi kelupaan sesuatu yang harusnya diomongin atau malah nambahin sesuatu yang harusnya nggak diomongin. Selain itu, gue sendiri juga udah lebih tenang dan lebih rasional saat gue baca koran keesokan harinya, jadi gue bisa menilai dan berkomentar dengan lebih bertanggungjawab.

Salahnya, gue tetep aja mantengin timeline--walaupun udah niat log off, sayangnya telat--dan akhirnya baca tweet yang bikin gue marah.

Look what mere issues can do to people's state of mind.
Gue nggak tau pasti tetangga toko ibu Mbak @inistephanie bisa panik karena denger isu dari mana. Bisa dari nonton TV, bisa juga dari BBM atau isu mulut-ke-mulut. Kalo soal media, gue gak perlu komentar apa-apa lagi selain mereka memang udah lama nggak punya orientasi untuk jadi pelayan publik di bidang informasi, cuma mentingin rating demi pemasukan--dan bagi mereka, terutama media semacam TVOne yang isinya gak pernah bisa dipertanggungjawabkan--kontroversi berarti rating. Mereka nggak peduli kalo menyiarkan berita yang gak jelas macam "delapan mahasiswa terluka dan satu orang tewas tertembus peluru tajam" itu bakal bikin panik orang-orang yang nggak tau apa-apa. Banyak juga anak Jakarta yang ngetweet maupun bilang langsung ke gue kalo orang tua mereka nelpon dengan nada panik karena takut anaknya kenapa-kenapa. Buat yang nonton TVOne, yang kebayang adalah "Jakarta rusuh". Bukan Salemba atau Diponegoro doang.

Media bodoh dan jahat, itu sudah jelas. Yang gue sesalkan dan bikin lebih marah adalah karena di timeline gue banyak banget yang merelai berita semacam itu dari timeline entah siapa, yang gak bisa diverifikasi baik isi tweet maupun identitas pemilik akunnya. Bahkan orang-orang dengan followers ribuan dan influence lumayan ikutan nyebarin berita-berita nggak jelas ini.

Sepertinya banyak di antara twitter users yang nggak sadar bahwa memiliki akun twitter bisa disamakan dengan memiliki media pribadi. Followers adalah audiens dan following adalah (satu di antara banyak) sumber informasi--sedikit banyak kita terpengaruh oleh following dan followers pun terpengaruh oleh kita. Itulah sebabnya kenapa twitter disebut media sosial; karena apa yang dilakukan satu aktor mempengaruhi/dipengaruhi aktor lain di dalamnya. Mungkin lo pikir, lo cuma menyuarakan apa yang ada di kepala lo sekarang. Tapi lo nggak sadar bahwa apa yang lo suarakan itu menimbulkan efek yang nggak keliatan--yang nggak lo tau. Makanya, seperti semua hal lain yang elo lakukan--boker sekalipun--akun twitter lo harus lo pake dengan kesadaran. Bukan cuma tentang 'apa' yang elo omongin lewat akun lo, tapi 'kapan' dan 'gimana' juga. Nggak ada cara untuk memastikan siapa aja yang nge-follow elo dan dengan cara seperti apa mereka akan terpengaruh oleh isi tweet lo, jadi mestinya wajar kalo gue berharap seseorang mau mikir berkali-kali sebelum ngetweet, apalagi tentang hal-hal yang sifatnya sensitif atau kontroversial. Gue juga sering ngawur, tapi gue berusaha untuk minta maaf kalo ada yang tersinggung sama pendapat atau cara gue nge-tweet dan sekarang gue juga gak akan segan untuk menghapus tweet gue kalo gue sadar itu salah. Gue tetep bebas kok ngomongin apa yang gue mau. Hak-hak pribadi dan kebebasan gue nggak terlanggar. Cuma gue bertenggang rasa aja, karena gue di twitter nggak sendirian.

Terus, dengan semua ocehan--yang gue akui sedikit atau mungkin sangat sok tau--di atas, apa gue mau nuduh kepanikan tetangga toko ibunya Mbak @inistephanie itu gara-gara twitter? Nggak, tapi ada kemungkinan bahwa tweet atau retweet lo menimbulkan kepanikan sejenis terhadap orang lain. Mungkin ada di antara lo yang merasa bahwa lo juga korban kesimpang-siuran dan kepanikan follower elo bukan salah lo, tapi kalo semua orang make akun twitternya dengan bertanggung jawab, berita gak jelas ini pun gak akan tercipta in the first place. Gak semua di twitter punya tingkat kebijaksanaan yang sama untuk memproses berita, begitu juga followers elo, dan kalo lo ngerasa lo bukan orang yang mampu bertanggung jawab ama isi timeline lo, mending lo kunci aja akun lo dan ngomong sendiri. Dengan begitu, lo gak akan mempengaruhi siapa pun dan nggak harus bertanggung jawab pada siapa pun. If you want to interact with people or to get their attention, lo harus konsekuen dan siap untuk ngasih penjelasan atau meminta maaf--bahkan jika risikonya lo dibilang twitwar sama orang-orang yang nggak paham bahwa debat adalah tanda bahwa dua orang punya kedudukan setara sebagai manusia yang berhak berpendapat, bukan tanda bahwa dua orang itu lagi musuhan.

Nggak susah, kan? Toh sebenernya di semua aspek kehidupan lain kita juga menerapkan hal yang sama. So I think this is not so much to ask for. Dan kalo cara gue meminta ini terlalu arogan dan menghakimi, gue minta maaf. Gue cuma percaya, cara seseorang melakukan satu hal adalah caranya melakukan segala hal. Kalo kita punya kendali penuh atas diri sendiri saat twitteran, berarti kita juga cenderung punya kendali penuh atas diri sendiri saat ngelakuin hal-hal lain. Mungkin bisa dibilang, twitter melatih kepribadian dan cara berpikir gue. Works quite well so far, menurut orang-orang terdekat. Maybe you should try, too, starting from now.

Kamis, 29 Maret 2012

[REVIEW +colongan] Dari Zombie Apocalypse ke Manga "Kanojo o Mamoru 51 no Houhou"

Selasa tanggal 13/03 pagi, gue liat ada mention menarik dari Atri. Dia nge-cc link berita dari akun @TIME (yes, the almighty TIME magazine) tentang 'zombie-fighting course' yang lagi ditawarin sama sebuah universitas di Amerika.

Tweet termaksud.
Berhubung gue cukup suka sama segala hal berbau zombie (cukup suka untuk bikin zombie apocalypse squad bareng sekelompok temen sepergilaan), maka dengan antusias gue langsung klik link berita itu. Setelah baca, gue malah sebel setengah mampus sama TIME, yang notabene adalah salah satu media terbesar di dunia, karena judul artikel, tweet tentang artikel itu, sama isi artikelnya sendiri nggak nyambung. Intinya, judul dan tweet soal artikel tersebut terlalu menyederhanakan course yang ditawarkan. Iya sih, gue tau, media online harus selalu bikin judul dan tweet yang menarik supaya orang mau nge-klik link ke situs mereka. But it's friggin' TIME magazine, and the article is about a reputable American university offering a serious course on friggin' zombie apocalypse. People would click that link.

Kenapa gue bilang 'zombie-fighting course' itu over-simplifying? Karena di course yang judulnya Surviving the Coming Zombie Apocalypse: Catastrophes & Human Behavior itu, fokus utamanya bukan zombie. Artikel itu sendiri bilang, "...the course will cover events like the Great Plague and disastrous earthquakes, before moving on to a theoretical zombie invasion." Jadi course itu sebenernya adalah tentang dampak bencana berskala besar (yang mengakibatkan kemusnahan massal) terhadap kemanusiaan atau humanity. Staf pengajar course itu, Glen Stutzky, juga nambahin statement yang nampol banget: "In a time of catastrophe, some people find their humanity; others lose theirs."

Makanya menurut gue sayang aja kalo poin-poin sebagus itu direduksi jadi Walking Dead 101: University to Offer Zombie-Fighting Course (iye, itu judul artikelnye), yang bikin kelas itu jadi kedengeran kayak sekelompok nerd dan conspiracy-buffs latian headshot pake orang-orangan sawah dan pistol berpeluru sedotan WC mini (itu loh, yang ada ujung karetnya, yang bisa nempel di kaca, entah apa itu namanya). Belum lagi pake embel-embel "Walking Dead", yang, without doubt, mengacu ke sebuah serial TV busuk (well, season 1 keren, sih) bergenre telezombienovela. Dan plis jangan bilang, "tapi kan Walking Dead itu dari komik!" Gak penting. Sebelum jadi serial TV, populasi penggemar komik itu paling cuma tahan 3 detik kalo adu tarik tambang sama penggemar Twilight. Kaga usah repot-repot.

Hhh. Oke. Enough about TIME magazine dan kenorakan mereka.

Yang sebenernya paling pengen gue omongin di sini adalah semua hal yang dibilang Glen Stutzky tentang bencana dan kemanusiaan itu bikin gue inget sama salah satu manga paling powerful yang pernah gue baca. Bukan cuma karena manga itu emang bagus menurut gue, tapi karena gue bener-bener bisa relate sama apa yang diceritain di situ.

Manga yang gue bicarain ini berjudul Kanojo o Mamoru 51 no Houhou (彼女を守る51の方法) atau 51 Ways to Protect Her dalam Bahasa Inggris, ditulis oleh mangaka Furuya Usamaru.

Demi kemaslahatan umat, judul panjang dan ribet ini selanjutnya kita singkat jadi 51 Ways...
Plotnya sederhana aja. Jin Mishima, anak kuliahan tahun terakhir, lagi ada di Odaiba, Tokyo, untuk ngelamar kerja jadi pembaca berita di sebuah stasiun TV. Di daerah tersebut dia ketemu sama temen SMP-nya, Nanako Okano, yang sekarang udah jadi gothic lolita merangkap groupie band visual-kei Sarin Helnwein. Saat keduanya lagi nginget-nginget masa lalu yang nggak terlalu menyenangkan, mendadak Tokyo diguncang gempa berkekuatan 8.1 SR yang bikin orang-orang, termasuk Jin dan Nanako, terkurung di antara reruntuhan kota Tokyo. Akhirnya mereka sepakat untuk jadi temen seperjalanan untuk keluar dari kota yang hancur itu, menuju daerah rumah mereka di Waseda. Dan manga ini bercerita tentang apa aja yang terjadi, juga orang-orang yang mereka temuin, selama beberapa hari perjalanan mereka itu.

Udah, gitu doang. Simpel, kan? Well, premis boleh simpel, tapi kekuatan 51 Ways... adalah pada realismenya dalam menggambarkan dampak bencana pada diri manusia, secara fisik maupun mental. Sebagai orang yang ngalamin sendiri gempa Jogja tahun 2006, gue sangat familiar dengan apa yang digambarkan Usamaru-sensei di manga ini.

Bener-bener de javu yang nggak menyenangkan.
Dalam 51 Ways..., yang paling mengerikan justru bukan akibat fisik dari bencana itu, tapi apa yang diakibatkan oleh bencana itu terhadap kondisi kejiwaan orang-orang yang mengalami. Misalnya, saat Jin masuk ke sebuah pertokoan untuk mencoba menyelamatkan orang-orang yang tertindih reruntuhan namun masih hidup, tapi terpaksa ninggalin mereka semua untuk mati karena selain dia nggak bisa ngapa-ngapain, dia pun bakalan ikut terjebak atau mati di situ kalo ada gempa susulan. Kejadian ini membekas banget di Jin dan menurut gue siapa pun yang mengalami hal semacam ini kalo gak sakit jiwa pasti bakalan trauma.

Semua kesakitan dan minta tolong, tapi lo gak bisa ngapa-ngapain.
Usamaru-sensei emang jago banget menggambarkan pergolakan batin manusia ketika mereka terjepit dan harus mikirin segala cara yang mungkin dilakukan untuk bertahan hidup. Tapi bukan cuma yang angsty dan gloomy, beliau juga ngasih liat gimana beberapa orang tetep bisa saling tolong, bahkan mengorbankan diri buat keselamatan orang lain. Seperti salah satu arc favorit gue di 51 Days..., "Women's Stronghold", yang ngeliatin gimana cewek-cewek gaul Shibuya bikin penampungan khusus perempuan supaya mereka nggak kena pelecehan seksual.
Badass mamasitas.
Realitas kemanusiaan yang bertolak belakang ini nggak cuma terjadi di dalem komik aja, walaupun seberapa riil atau hiperbolisnya kita nggak tau karena gue belum pernah liat bencana sebesar ini dan gue gak pengen liat. Amit-amit, jangan sampe. Tapi, lo boleh cek ke orang-orang yang pernah ngalamin bencana sebelumnya, hal-hal seperti penjarahan, perkelahian, bahkan pemerkosaan itu bukan sesuatu yang asing saat bencana besar terjadi. Mau itu gempa/tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, gempa Padang 2009, letusan Merapi 2010, pasti ada kejadian semacam itu, walaupun mungkin nggak masuk ke media-media besar. Cuma, lo juga mesti liat gimana bencana ini bagi sebagian orang justru menggerakkan bagian diri mereka yang rela nyusahin diri sendiri buat orang lain, bahkan saat mereka sebenernya lagi kesusahan juga. Persis kayak yang dibilang Stutzky di atas: "some people find their humanity, some lose theirs".

51 Ways... terdiri dari 49 chapter, which is nggak panjang, cuma 5 volume doang. Pace ceritanya cukup cepat dan elo nggak akan ngerasa bosen, cocok lah buat maraton di akhir minggu. Well, mungkin beberapa akan ngerasa sebel sama karakter Nanako yang mirip NPC gak guna dan gampang mati yang harus lo kawal di game-game action-shooting, tapi menurut gue justru perkembangan karakter Nanako jadi salah satu bagian yang menarik dari 51 Ways....

Kalo tertarik, silakan baca manga ini di sini, dan gue minta maaf sebelumnya karena lagi-lagi tulisan gue terlalu panjang dan bertele-tele. Gue sangat menyarankan manga ini buat lo yang lebih suka cerita-cerita yang lebih realistis dan dewasa, a la graphic novel. If you have anything to say about this topic or the review, don't hesitate to drop a comment!

Jumat, 23 Maret 2012

Tentang Mental Kagetan: Antara Lady Gaga dan Visual Kei

Gue suka geli kalo ada yang marah-marah sama Lady Gaga karena katanya konsep visual dia yang serba extravagant dan over the top itu kayak niru Madonna. Oke lah kalo dibilang visualnya itu cuma gimmick karena musiknya biasa dan butuh sesuatu untuk mendongkrak itu. Masih debatable. Tapi repetan tentang 'originalitas konsep' ini bikin ngikik karena... well, honestly, itu bikin yang bilang jadi kedengeran kayak katak dalam tempurung. Mereka nggak pernah tau konsep seperti itu di luar kerangka 'Madonna', lalu serta-merta menasbihkan Madonna sebagai pionir. Kayaknya peramai scene glam/hair metal tahun 80-an pun akan ngetawain mereka.

Gue sendiri ngerasa ada kesamaan konsep Lady Gaga dengan yang diusung para punggawa genre visual kei dari Jepang, yaitu adanya kaitan kuat antara konsep musik dan konsep visualnya, jadi bukan asal nyentrik aja. Gue udah biasa dengerin visual kei dari ('kei' ditulis dengan kanji  yang berarti 'style' atau 'system') dari SMP, jadi udah nggak kaget lagi sama konsep Lady Gaga ini. Genre itu sendiri di Jepang udah dikenal dari akhir tahun 1980an, dengan band seperti X Japan dan Luna Sea sebagai beberapa dari pelopornya yang paling terkenal.

Tagline-nya aja udah 'psychedelic violence crime of visual shock'. Whatever that means.
Setelah itu, muncul beberapa band visual kei lain yang cukup influential seperti Kuroyume yang menginspirasi Dir en Grey sekaligus membuka jalan bagi band-band sejenis the Gazette di masa depan, Malice Mizer yang menjadi awal kemunculan superstar multitalenta Gackt, dan jangan lupa, L'Arc~en~Ciel pun mengawali karir mereka sebagai band visual kei.

Kuroyume, band dengan frontman Kiyoharu, salah satu visual rock godfather.
Malice Mizer di era keemasan, waktu Gackt masih jadi vokalis.
Nggak berenti di gothic, setelah era band-band yang gue sebutin di atas muncul band lain dengan konsep yang makin sinting. Ada beberapa yang jatohnya what the fuck abis kayak Psycho Le Cemu dengan lagu-lagu mereka yang bertema fantasi dan anime, tapi ada juga yang keren kayak Kagrra dengan unsur enka (musik tradisional Jepang) beserta konsep visual yang cocok dengan musik tersebut.

Psycho Le Cemu a.k.a. "God vomited musical rainbow on us".
Kagrra, was the best of enka rock, too bad their vocalist passed away.
Gue nggak mau ngomel panjang-lebar tentang visual kei sih. Sejarah dan musiknya bisa di-googling untuk yang tertarik tau lebih lanjut. Gue cuma pengen ngasih tau buat yang terlalu cepet menilai Lady Gaga niru Madonna, kalo di luar kerangka popular culture lo yang America-minded itu ada hal lain yang punya dasar pemikiran mirip. Terus apa gue bilang Lady Gaga itu visual kei, atau terinspirasi visual kei? Enggak juga. Visual kei pun sebelumnya pasti terinspirasi sama sesuatu yang udah ada, terus berkembang jadi bentuknya yang sekarang. Intinya, matahari nggak cuma bersinar di satu tempat aja. Seandainya lo mau memalingkan muka, lo akan ngeliat bahwa di tempat lain ada banyak orang yang udah lebih dulu melakukan hal yang sekarang lagi bikin lo mangap terkagum-kagum. Jadi orang jangan kagetan, apalagi di era internet kayak gini.

Lagipula, kenapa sih lo nggak lebih dulu nilai seorang artist berdasarkan karya dan penampilan dia sendiri, sebelum ngebandingin dengan artist yang udah lebih dulu muncul? Kalopun mau bilang artist A meniru artist B, lo juga mesti punya alasan dan argumen yang cukup buat itu, otherwise orang lain cuma bakal ngeliat elo sebagai 'barisan sakit hati', fans yang nggak terima idolanya kalah terkenal sama artist baru yang satu tipe. Well, terserah lo sih kalo nggak keberatan dilihat seperti itu. But it's just ultra-pathetic, really.