Jumat, 30 Maret 2012

Satu alasan kecil kenapa cara lo make twitter itu penting.

Timeline twitter gue lagi ribut karena demonstrasi nolak kenaikan harga BBM di daerah Diponegoro dan (terutama) Salemba, Jakarta, rusuh. Seperti biasa gue menahan diri untuk nggak komentar karena selain nambah-nambahin panas suasana, gue juga nggak ngikutin banget beritanya. Soalnya gue nggak nonton TV dan lebih suka baca koran besok paginya. Menurut gue, berita di koran cetak lebih bisa dipertanggungjawabkan karena ada jarak antara waktu reportase, penulisan dan naik cetak, nggak kayak berita di media online dan live TV yang terkesan instan dan minim supervisi. Belum lagi pengaruh adrenalin si reporter sendiri yang mungkin aja bikin dia jadi kelupaan sesuatu yang harusnya diomongin atau malah nambahin sesuatu yang harusnya nggak diomongin. Selain itu, gue sendiri juga udah lebih tenang dan lebih rasional saat gue baca koran keesokan harinya, jadi gue bisa menilai dan berkomentar dengan lebih bertanggungjawab.

Salahnya, gue tetep aja mantengin timeline--walaupun udah niat log off, sayangnya telat--dan akhirnya baca tweet yang bikin gue marah.

Look what mere issues can do to people's state of mind.
Gue nggak tau pasti tetangga toko ibu Mbak @inistephanie bisa panik karena denger isu dari mana. Bisa dari nonton TV, bisa juga dari BBM atau isu mulut-ke-mulut. Kalo soal media, gue gak perlu komentar apa-apa lagi selain mereka memang udah lama nggak punya orientasi untuk jadi pelayan publik di bidang informasi, cuma mentingin rating demi pemasukan--dan bagi mereka, terutama media semacam TVOne yang isinya gak pernah bisa dipertanggungjawabkan--kontroversi berarti rating. Mereka nggak peduli kalo menyiarkan berita yang gak jelas macam "delapan mahasiswa terluka dan satu orang tewas tertembus peluru tajam" itu bakal bikin panik orang-orang yang nggak tau apa-apa. Banyak juga anak Jakarta yang ngetweet maupun bilang langsung ke gue kalo orang tua mereka nelpon dengan nada panik karena takut anaknya kenapa-kenapa. Buat yang nonton TVOne, yang kebayang adalah "Jakarta rusuh". Bukan Salemba atau Diponegoro doang.

Media bodoh dan jahat, itu sudah jelas. Yang gue sesalkan dan bikin lebih marah adalah karena di timeline gue banyak banget yang merelai berita semacam itu dari timeline entah siapa, yang gak bisa diverifikasi baik isi tweet maupun identitas pemilik akunnya. Bahkan orang-orang dengan followers ribuan dan influence lumayan ikutan nyebarin berita-berita nggak jelas ini.

Sepertinya banyak di antara twitter users yang nggak sadar bahwa memiliki akun twitter bisa disamakan dengan memiliki media pribadi. Followers adalah audiens dan following adalah (satu di antara banyak) sumber informasi--sedikit banyak kita terpengaruh oleh following dan followers pun terpengaruh oleh kita. Itulah sebabnya kenapa twitter disebut media sosial; karena apa yang dilakukan satu aktor mempengaruhi/dipengaruhi aktor lain di dalamnya. Mungkin lo pikir, lo cuma menyuarakan apa yang ada di kepala lo sekarang. Tapi lo nggak sadar bahwa apa yang lo suarakan itu menimbulkan efek yang nggak keliatan--yang nggak lo tau. Makanya, seperti semua hal lain yang elo lakukan--boker sekalipun--akun twitter lo harus lo pake dengan kesadaran. Bukan cuma tentang 'apa' yang elo omongin lewat akun lo, tapi 'kapan' dan 'gimana' juga. Nggak ada cara untuk memastikan siapa aja yang nge-follow elo dan dengan cara seperti apa mereka akan terpengaruh oleh isi tweet lo, jadi mestinya wajar kalo gue berharap seseorang mau mikir berkali-kali sebelum ngetweet, apalagi tentang hal-hal yang sifatnya sensitif atau kontroversial. Gue juga sering ngawur, tapi gue berusaha untuk minta maaf kalo ada yang tersinggung sama pendapat atau cara gue nge-tweet dan sekarang gue juga gak akan segan untuk menghapus tweet gue kalo gue sadar itu salah. Gue tetep bebas kok ngomongin apa yang gue mau. Hak-hak pribadi dan kebebasan gue nggak terlanggar. Cuma gue bertenggang rasa aja, karena gue di twitter nggak sendirian.

Terus, dengan semua ocehan--yang gue akui sedikit atau mungkin sangat sok tau--di atas, apa gue mau nuduh kepanikan tetangga toko ibunya Mbak @inistephanie itu gara-gara twitter? Nggak, tapi ada kemungkinan bahwa tweet atau retweet lo menimbulkan kepanikan sejenis terhadap orang lain. Mungkin ada di antara lo yang merasa bahwa lo juga korban kesimpang-siuran dan kepanikan follower elo bukan salah lo, tapi kalo semua orang make akun twitternya dengan bertanggung jawab, berita gak jelas ini pun gak akan tercipta in the first place. Gak semua di twitter punya tingkat kebijaksanaan yang sama untuk memproses berita, begitu juga followers elo, dan kalo lo ngerasa lo bukan orang yang mampu bertanggung jawab ama isi timeline lo, mending lo kunci aja akun lo dan ngomong sendiri. Dengan begitu, lo gak akan mempengaruhi siapa pun dan nggak harus bertanggung jawab pada siapa pun. If you want to interact with people or to get their attention, lo harus konsekuen dan siap untuk ngasih penjelasan atau meminta maaf--bahkan jika risikonya lo dibilang twitwar sama orang-orang yang nggak paham bahwa debat adalah tanda bahwa dua orang punya kedudukan setara sebagai manusia yang berhak berpendapat, bukan tanda bahwa dua orang itu lagi musuhan.

Nggak susah, kan? Toh sebenernya di semua aspek kehidupan lain kita juga menerapkan hal yang sama. So I think this is not so much to ask for. Dan kalo cara gue meminta ini terlalu arogan dan menghakimi, gue minta maaf. Gue cuma percaya, cara seseorang melakukan satu hal adalah caranya melakukan segala hal. Kalo kita punya kendali penuh atas diri sendiri saat twitteran, berarti kita juga cenderung punya kendali penuh atas diri sendiri saat ngelakuin hal-hal lain. Mungkin bisa dibilang, twitter melatih kepribadian dan cara berpikir gue. Works quite well so far, menurut orang-orang terdekat. Maybe you should try, too, starting from now.

Kamis, 29 Maret 2012

[REVIEW +colongan] Dari Zombie Apocalypse ke Manga "Kanojo o Mamoru 51 no Houhou"

Selasa tanggal 13/03 pagi, gue liat ada mention menarik dari Atri. Dia nge-cc link berita dari akun @TIME (yes, the almighty TIME magazine) tentang 'zombie-fighting course' yang lagi ditawarin sama sebuah universitas di Amerika.

Tweet termaksud.
Berhubung gue cukup suka sama segala hal berbau zombie (cukup suka untuk bikin zombie apocalypse squad bareng sekelompok temen sepergilaan), maka dengan antusias gue langsung klik link berita itu. Setelah baca, gue malah sebel setengah mampus sama TIME, yang notabene adalah salah satu media terbesar di dunia, karena judul artikel, tweet tentang artikel itu, sama isi artikelnya sendiri nggak nyambung. Intinya, judul dan tweet soal artikel tersebut terlalu menyederhanakan course yang ditawarkan. Iya sih, gue tau, media online harus selalu bikin judul dan tweet yang menarik supaya orang mau nge-klik link ke situs mereka. But it's friggin' TIME magazine, and the article is about a reputable American university offering a serious course on friggin' zombie apocalypse. People would click that link.

Kenapa gue bilang 'zombie-fighting course' itu over-simplifying? Karena di course yang judulnya Surviving the Coming Zombie Apocalypse: Catastrophes & Human Behavior itu, fokus utamanya bukan zombie. Artikel itu sendiri bilang, "...the course will cover events like the Great Plague and disastrous earthquakes, before moving on to a theoretical zombie invasion." Jadi course itu sebenernya adalah tentang dampak bencana berskala besar (yang mengakibatkan kemusnahan massal) terhadap kemanusiaan atau humanity. Staf pengajar course itu, Glen Stutzky, juga nambahin statement yang nampol banget: "In a time of catastrophe, some people find their humanity; others lose theirs."

Makanya menurut gue sayang aja kalo poin-poin sebagus itu direduksi jadi Walking Dead 101: University to Offer Zombie-Fighting Course (iye, itu judul artikelnye), yang bikin kelas itu jadi kedengeran kayak sekelompok nerd dan conspiracy-buffs latian headshot pake orang-orangan sawah dan pistol berpeluru sedotan WC mini (itu loh, yang ada ujung karetnya, yang bisa nempel di kaca, entah apa itu namanya). Belum lagi pake embel-embel "Walking Dead", yang, without doubt, mengacu ke sebuah serial TV busuk (well, season 1 keren, sih) bergenre telezombienovela. Dan plis jangan bilang, "tapi kan Walking Dead itu dari komik!" Gak penting. Sebelum jadi serial TV, populasi penggemar komik itu paling cuma tahan 3 detik kalo adu tarik tambang sama penggemar Twilight. Kaga usah repot-repot.

Hhh. Oke. Enough about TIME magazine dan kenorakan mereka.

Yang sebenernya paling pengen gue omongin di sini adalah semua hal yang dibilang Glen Stutzky tentang bencana dan kemanusiaan itu bikin gue inget sama salah satu manga paling powerful yang pernah gue baca. Bukan cuma karena manga itu emang bagus menurut gue, tapi karena gue bener-bener bisa relate sama apa yang diceritain di situ.

Manga yang gue bicarain ini berjudul Kanojo o Mamoru 51 no Houhou (彼女を守る51の方法) atau 51 Ways to Protect Her dalam Bahasa Inggris, ditulis oleh mangaka Furuya Usamaru.

Demi kemaslahatan umat, judul panjang dan ribet ini selanjutnya kita singkat jadi 51 Ways...
Plotnya sederhana aja. Jin Mishima, anak kuliahan tahun terakhir, lagi ada di Odaiba, Tokyo, untuk ngelamar kerja jadi pembaca berita di sebuah stasiun TV. Di daerah tersebut dia ketemu sama temen SMP-nya, Nanako Okano, yang sekarang udah jadi gothic lolita merangkap groupie band visual-kei Sarin Helnwein. Saat keduanya lagi nginget-nginget masa lalu yang nggak terlalu menyenangkan, mendadak Tokyo diguncang gempa berkekuatan 8.1 SR yang bikin orang-orang, termasuk Jin dan Nanako, terkurung di antara reruntuhan kota Tokyo. Akhirnya mereka sepakat untuk jadi temen seperjalanan untuk keluar dari kota yang hancur itu, menuju daerah rumah mereka di Waseda. Dan manga ini bercerita tentang apa aja yang terjadi, juga orang-orang yang mereka temuin, selama beberapa hari perjalanan mereka itu.

Udah, gitu doang. Simpel, kan? Well, premis boleh simpel, tapi kekuatan 51 Ways... adalah pada realismenya dalam menggambarkan dampak bencana pada diri manusia, secara fisik maupun mental. Sebagai orang yang ngalamin sendiri gempa Jogja tahun 2006, gue sangat familiar dengan apa yang digambarkan Usamaru-sensei di manga ini.

Bener-bener de javu yang nggak menyenangkan.
Dalam 51 Ways..., yang paling mengerikan justru bukan akibat fisik dari bencana itu, tapi apa yang diakibatkan oleh bencana itu terhadap kondisi kejiwaan orang-orang yang mengalami. Misalnya, saat Jin masuk ke sebuah pertokoan untuk mencoba menyelamatkan orang-orang yang tertindih reruntuhan namun masih hidup, tapi terpaksa ninggalin mereka semua untuk mati karena selain dia nggak bisa ngapa-ngapain, dia pun bakalan ikut terjebak atau mati di situ kalo ada gempa susulan. Kejadian ini membekas banget di Jin dan menurut gue siapa pun yang mengalami hal semacam ini kalo gak sakit jiwa pasti bakalan trauma.

Semua kesakitan dan minta tolong, tapi lo gak bisa ngapa-ngapain.
Usamaru-sensei emang jago banget menggambarkan pergolakan batin manusia ketika mereka terjepit dan harus mikirin segala cara yang mungkin dilakukan untuk bertahan hidup. Tapi bukan cuma yang angsty dan gloomy, beliau juga ngasih liat gimana beberapa orang tetep bisa saling tolong, bahkan mengorbankan diri buat keselamatan orang lain. Seperti salah satu arc favorit gue di 51 Days..., "Women's Stronghold", yang ngeliatin gimana cewek-cewek gaul Shibuya bikin penampungan khusus perempuan supaya mereka nggak kena pelecehan seksual.
Badass mamasitas.
Realitas kemanusiaan yang bertolak belakang ini nggak cuma terjadi di dalem komik aja, walaupun seberapa riil atau hiperbolisnya kita nggak tau karena gue belum pernah liat bencana sebesar ini dan gue gak pengen liat. Amit-amit, jangan sampe. Tapi, lo boleh cek ke orang-orang yang pernah ngalamin bencana sebelumnya, hal-hal seperti penjarahan, perkelahian, bahkan pemerkosaan itu bukan sesuatu yang asing saat bencana besar terjadi. Mau itu gempa/tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, gempa Padang 2009, letusan Merapi 2010, pasti ada kejadian semacam itu, walaupun mungkin nggak masuk ke media-media besar. Cuma, lo juga mesti liat gimana bencana ini bagi sebagian orang justru menggerakkan bagian diri mereka yang rela nyusahin diri sendiri buat orang lain, bahkan saat mereka sebenernya lagi kesusahan juga. Persis kayak yang dibilang Stutzky di atas: "some people find their humanity, some lose theirs".

51 Ways... terdiri dari 49 chapter, which is nggak panjang, cuma 5 volume doang. Pace ceritanya cukup cepat dan elo nggak akan ngerasa bosen, cocok lah buat maraton di akhir minggu. Well, mungkin beberapa akan ngerasa sebel sama karakter Nanako yang mirip NPC gak guna dan gampang mati yang harus lo kawal di game-game action-shooting, tapi menurut gue justru perkembangan karakter Nanako jadi salah satu bagian yang menarik dari 51 Ways....

Kalo tertarik, silakan baca manga ini di sini, dan gue minta maaf sebelumnya karena lagi-lagi tulisan gue terlalu panjang dan bertele-tele. Gue sangat menyarankan manga ini buat lo yang lebih suka cerita-cerita yang lebih realistis dan dewasa, a la graphic novel. If you have anything to say about this topic or the review, don't hesitate to drop a comment!

Jumat, 23 Maret 2012

Tentang Mental Kagetan: Antara Lady Gaga dan Visual Kei

Gue suka geli kalo ada yang marah-marah sama Lady Gaga karena katanya konsep visual dia yang serba extravagant dan over the top itu kayak niru Madonna. Oke lah kalo dibilang visualnya itu cuma gimmick karena musiknya biasa dan butuh sesuatu untuk mendongkrak itu. Masih debatable. Tapi repetan tentang 'originalitas konsep' ini bikin ngikik karena... well, honestly, itu bikin yang bilang jadi kedengeran kayak katak dalam tempurung. Mereka nggak pernah tau konsep seperti itu di luar kerangka 'Madonna', lalu serta-merta menasbihkan Madonna sebagai pionir. Kayaknya peramai scene glam/hair metal tahun 80-an pun akan ngetawain mereka.

Gue sendiri ngerasa ada kesamaan konsep Lady Gaga dengan yang diusung para punggawa genre visual kei dari Jepang, yaitu adanya kaitan kuat antara konsep musik dan konsep visualnya, jadi bukan asal nyentrik aja. Gue udah biasa dengerin visual kei dari ('kei' ditulis dengan kanji  yang berarti 'style' atau 'system') dari SMP, jadi udah nggak kaget lagi sama konsep Lady Gaga ini. Genre itu sendiri di Jepang udah dikenal dari akhir tahun 1980an, dengan band seperti X Japan dan Luna Sea sebagai beberapa dari pelopornya yang paling terkenal.

Tagline-nya aja udah 'psychedelic violence crime of visual shock'. Whatever that means.
Setelah itu, muncul beberapa band visual kei lain yang cukup influential seperti Kuroyume yang menginspirasi Dir en Grey sekaligus membuka jalan bagi band-band sejenis the Gazette di masa depan, Malice Mizer yang menjadi awal kemunculan superstar multitalenta Gackt, dan jangan lupa, L'Arc~en~Ciel pun mengawali karir mereka sebagai band visual kei.

Kuroyume, band dengan frontman Kiyoharu, salah satu visual rock godfather.
Malice Mizer di era keemasan, waktu Gackt masih jadi vokalis.
Nggak berenti di gothic, setelah era band-band yang gue sebutin di atas muncul band lain dengan konsep yang makin sinting. Ada beberapa yang jatohnya what the fuck abis kayak Psycho Le Cemu dengan lagu-lagu mereka yang bertema fantasi dan anime, tapi ada juga yang keren kayak Kagrra dengan unsur enka (musik tradisional Jepang) beserta konsep visual yang cocok dengan musik tersebut.

Psycho Le Cemu a.k.a. "God vomited musical rainbow on us".
Kagrra, was the best of enka rock, too bad their vocalist passed away.
Gue nggak mau ngomel panjang-lebar tentang visual kei sih. Sejarah dan musiknya bisa di-googling untuk yang tertarik tau lebih lanjut. Gue cuma pengen ngasih tau buat yang terlalu cepet menilai Lady Gaga niru Madonna, kalo di luar kerangka popular culture lo yang America-minded itu ada hal lain yang punya dasar pemikiran mirip. Terus apa gue bilang Lady Gaga itu visual kei, atau terinspirasi visual kei? Enggak juga. Visual kei pun sebelumnya pasti terinspirasi sama sesuatu yang udah ada, terus berkembang jadi bentuknya yang sekarang. Intinya, matahari nggak cuma bersinar di satu tempat aja. Seandainya lo mau memalingkan muka, lo akan ngeliat bahwa di tempat lain ada banyak orang yang udah lebih dulu melakukan hal yang sekarang lagi bikin lo mangap terkagum-kagum. Jadi orang jangan kagetan, apalagi di era internet kayak gini.

Lagipula, kenapa sih lo nggak lebih dulu nilai seorang artist berdasarkan karya dan penampilan dia sendiri, sebelum ngebandingin dengan artist yang udah lebih dulu muncul? Kalopun mau bilang artist A meniru artist B, lo juga mesti punya alasan dan argumen yang cukup buat itu, otherwise orang lain cuma bakal ngeliat elo sebagai 'barisan sakit hati', fans yang nggak terima idolanya kalah terkenal sama artist baru yang satu tipe. Well, terserah lo sih kalo nggak keberatan dilihat seperti itu. But it's just ultra-pathetic, really.

[RANTS & REVIEW] Eternal Grace: Episode 1

Saat ini, banyak engine seperti RPG Maker atau Ren'Py yang memungkinkan elo untuk bikin game tanpa harus membangun framework dari awal tapi tetep membebaskan elo untuk berkreasi membangun dunia, merancang gameplay dan karakter, serta finally menghasilkan game yang orisinil dari pikiran elo sendiri. Dengan adanya kemudahan yang disediakan engines semacam ini, indie developers yang punya kapital nggak sebesar game developer korporat bisa menghemat usaha, waktu dan duit untuk bikin game. Ini berdampak ke meledaknya jumlah game yang beredar terutama untuk PC dan tentunya ini adalah surga buat gue, gamer dunia ketiga sekaligus fakir console yang terpaksa jadi budak Kongregate di mana gue bisa nyari game-game gratisan yang bagus. Well, gak terpaksa juga sih, karena game-game di sana emang banyak yang bagus.

Anyway, surga bagi gamer nggak selalu berarti surga bagi developer. Karena, semakin mudah dan murah teknologinya, semakin kompetitif juga persaingan yang terjadi di antara para produsen. Gamer juga makin selektif dan pinter milih. Kalo 10 menit gue main game elo dan gue nggak suka, ngapain gue terusin? Toh masih banyak juga game lain yang lebih bagus dan gratis. Kalopun saat ini gak ada, gue nunggu seminggu juga paling udah keluar lagi game yang lain. In the meantime, gue bisa ngulang main game lama yang gue suka.

Lo bisa lihat, bahkan 'gratis' pun sekarang ini udah nggak bisa berperan sebagai insentif bagi gamer untuk mainin game lo. Di Kongregate dan situs sejenis seperti Armor Games atau Newgrounds, gamer akan nge-rating game elo dan rata-rata rating ini akan menentukan apakah game lo bakal muncul di front page atau di halaman-halaman awal hasil searching. Average rating ini vital, karena kalo ratingnya jelek, tentunya game lo gak akan terlalu banyak terekspos dan sebagai developer lo kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kredibilitas, suatu hal yang akan berguna banget di masa depan untuk nyari sponsor untuk game lo selanjutnya atau sekedar untuk ngelamar kerja di developer yang lebih gede.

Nah, kalo game yang gratisan aja kompetisinya seganas itu, apalagi yang bayar? Sejauh mana lo bisa meyakinkan gamer untuk beli game lo dan nyebarin testimonial bagus untuk game tersebut (which is essential karena indie developers seringkali cuma punya budget promosi pas-pasan)?


A Promising Local Indie J-RPG

Salah satu case study yang bagus menyangkut permasalahan ini adalah game Eternal Grace: Episode 1, sebuah J-RPG yang dikembangkan oleh indie developer lokal Enthrean Guardian dan diedarkan oleh Awi IT Pro serta Sumber Alam Production.

Looking good as far as a title screen goes.  
Pertama kali gue tau tentang game ini dari Atoh, gue langsung tertarik karena dari screenshots yang dipajang di artikel itu keliatan banget kalo ini game well-designed dari segi interface menu dan karakternya. Untuk ukuran indie developer lokal atau mana pun, I can tell that they spent a good time developing these features, terutama karena setelah googling, gue jadi tau kalo interface dan desain karakter Eternal Grace berkembang terus selama masa penyelesaian, dan, yang paling penting, bahwa Eternal Grace dikembangkan dengan RPG Maker. Terus terang, kalo gue cuma liat screenshot-nya, gue gak akan nyangka kalo ini bikinan indie developer lokal dan dibikin pake RPG Maker doang.

See what I mean?  
Selain itu, Enthrean Guardian (apakah kebetulan bahwa inisial nama developernya sama dengan inisial game pertama mereka? xD) juga udah nyoba untuk jadi developer profesional dengan menjual game mereka, walaupun masih terhitung cukup murah bagi sebuah J-RPG, yaitu seharga Rp 45,000.00. Menurut gue ini effort yang patut didukung, jadi gue langsung download trial version game ini buat bahan pertimbangan untuk beli atau nggak. Selain itu, review lain, antara lain dari klikgame dan duniaku, juga muji-muji game ini, bahkan sampe bilang 'spektakuler' segala, sebuah kata yang bakal gue ucapin dengan sangat hati-hati kalo gue reviewer beneran.


Story & Gameplay
"Plot Eternal Grace: Episode 1 cukup menarik. Berlatarbelakangkan dunia fiktif bernama Enthrea, permainan bermula dengan munculnya seorang kapten kapal bernama Lao dan awak-awak kapalnya. ... Mereka ingin menemukan seorang “Silver Assassin”. Cerita lantas melompat ke Razh Avandrey, seorang prajurit bayaran yang secara kebetulan bertemu gadis bernama Millia Melody dan terjebak dalam pertikaian dua kelompok besar: SOFRA dan ZNF." - Atoh.com
Karena gue gak pengen spoiler, juga terutama karena game ini masih episode 1 sehingga belum banyak perkembangan cerita yang ada, mending lo mainin langsung aja kalo pengen tau ceritanya. Yang pengen gue highlight di sini adalah gameplay-nya yang cukup mudah dimengerti, standar action-RPG. Saat non-battle mode, lo bisa berinteraksi sama lingkungan lo dengan tombol C, spacebar atau enter. Tombol ini juga berguna untuk mengeksekusi 'field-skill' karakter lo kayak Rahz yang bisa menebas semak-semak untuk berburu item atau Millia yang bisa nembak, which somehow reminds me of Wild Arms series. Lo juga bisa ganti karakter dengan Q baik di town, dungeon/worldmap atau battle. Untuk lebih jelasnya, soal kontrol ini bisa lo liat di menu 'option'.
Gue ngereview bukan bikin tutorial, nyet. 
Sementara itu, sistem battle-nya agak mengingatkan gue sama serial Star Ocean klasik, di mana lo harus menyerang musuh secara aktif. Lo cukup tekan C/spacebar/enter untuk attack, S untuk menggunakan Stuff (items) dan D untuk Might (special moves). Twist-nya adalah, kalo lo terus-menerus nyerang, stamina lo akan habis dan lo gak bisa nyerang lagi, sehingga lo harus lari dulu supaya bisa ngisi stamina lagi. Ini kadang agak mengganggu dinamika battle karena menurut gue dalam action-RPG intensitas itu penting. 

Yang lebih ganggu lagi, nggak ada sistem hotkeys untuk Might atau Stuff. Kayak yang tadi gue udah bilang, lo tinggal pencet S untuk make Stuff. Tapi untuk milih Stuff yang mau lo pake di antara 3 Stuff yang udah lo bawa untuk battle, lo harus mencet Z+S sampe kursor berenti di atas Stuff yang mau lo pake, baru pencet S. Dan saat lo ngelakuin itu semua, battle-nya kagak berenti kayak di Star Ocean. Meaning, lo bisa dikeroyok saat lo make healing Stuff dan bikin itu Stuff jadi percuma. Gitu juga dengan Might. Bukannya nyerang, lo malah sibuk lari karena kursor lo belum ada di atas Might yang mau lo pake. Setubuh apa (what the fuck), Dewa Game? Ini sungguhlah sepele, tapi akibatnya bisa menjadi sangat asu.

"1-2-3 buat Stuff dan 4-5-6 buat Might" gak kedengeran kayak fisika kuantum, kan?  
Hal-hal di atas itu nggak terlalu mengganggu di bagian awal game, sehingga gue bisa memutuskan untuk langsung membeli versi penuh dari game ini. Cuma semakin jauh game berjalan, semakin susah musuhnya, semakin mendesak juga rasanya kebutuhan gue akan sistem kontrol yang nyaman. After all, kayaknya bukan cuma gue gamer yang kesel kalo mati bukan karena kebodohan sendiri, tapi karena dihambat sistem game yang bersangkutan.


Gimmicks?

Well, lepas dari kekurangan di sistem battle-nya, menurut gue ada beberapa hal lain yang bikin Eternal Grace unik.

Pertama, keliatan banget kalo Enthrean berusaha untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia lewat game ini. Mulai dari munculnya geng penjahat bernama Kupluk Rangers, nama-nama NPC berbau Indonesia seperti 'Tedjo', pola batik yang muncul di status bar karakter saat battle dan di latar menu screen, sampe munculnya menu tradisional seperti 'bajigur' di bar. Kalo Enthrean bisa bikin elemen-elemen ini terintegrasi dengan baik ke plot dan world-building Eternal Grace seperti yang biasa dilakukan J-RPG dengan unsur tradisi Jepang, maka ini jadi suatu kelebihan. But no one likes bad 'filler episodes' of a good anime series, right? Kalo nggak hati-hati, elemen-elemen ini malah akan jadi tempelan yang mengganggu keseluruhan cerita dan desain game-nya.

Kedua, adanya mini-game Hexabattle. I don't have any negative comments about this feature except that I WANT MORE!

Distraksi sempurna dari quests dan leveling-up.
Card-battle ini mengingatkan gue sama Triple Triad (Final Fantasy VIII) atau Tetra Master (Final Fantasy IX), dua dari mini-games paling adiktif dalam RPG yang pernah gue mainin. Kalo lo bosen grinding, penggemar permainan bertipe brain teaser atau emang lo tipe gamer yang suka ngoleksi, card-game ini pasti cocok buat elo. Gue sendiri emang suka game semacam ini, tapi sayangnya jumlah NPC yang bisa gue tantangin main Hexabattle juga terbatas. Kalo jumlah NPC dan varian kartu ditambah serta ada card-related quest, mini-game ini bisa jadi salah satu feature unggulan dari Eternal Grace.


Verdict

Oke, kita udah sampe ke bagian akhir dari review bertele-tele ini. Kesimpulan gue, dengan memperhitungkan seluruh kelebihan dan kekurangannya, Eternal Grace: Episode 1 is a decent game. It is by no means 'spektakuler' kayak yang dibilang klikgame, tapi by 'decent', I use general standards. Gue nggak membandingkannya dengan RPG Maker games lain, karena sejujurnya game ini udah bukan ada di level itu lagi. This is a decent game even by professional developers' standards, walaupun jelas masih terlalu prematur untuk ngebandinginnya dengan raksasa developer kayak Konami dan kawan-kawan. Masih perlu banyak perbaikan dari sisi gameplay seperti yang udah gue contohin di atas dengan battle-control-nya. Dialog antara Rahz dan Millia juga mestinya diperkuat karena somehow menurut gue humor di antara mereka nggak terlalu bekerja dengan baik, malah bikin Millia terancam jadi karakter yang lebih banyak annoying-nya daripada charming-nya. Walaupun emang 'gengges' adalah bagian dari personality Millia, tapi gamer punya batas kesabaran saat harus disuruh peduli dan ngendaliin karakter yang bikin males. Dan kalo ini sampe kejadian, sayang banget karena desain karakternya sendiri udah bagus.

In the end, gue bisa bilang bahwa gue nggak nyesel beli versi full dari game ini, karena semua kekurangan itu nggak signifikan dibandingkan kelebihannya dan karena, I'll say it again, this is a decent game, terutama dengan harga yang cuma Rp 45,000.00 aja.

Tapi, sebelum lo beli, lo mungkin mau tanya ke Enthrean lewat situs, akun twitter atau facebook page mereka, kapan versi remake dari Eternal Grace: Episode 1 akan dirilis. Dari jawaban atas komentar gue di facebook page Eternal Grace, sepertinya mereka bakal ngerilis versi baru yang lebih sempurna, dengan hints dan sistem kontrol yang diperbaiki. Gue sendiri antusias nungguin versi remake Eternal Grace: Episode 1, selain karena ini indie game lokal yang potensial, gue suka liat attitude Enthrean sebagai developer yang semangat banget 'jemput bola' sampe ke forum-forum game untuk memperkenalkan game mereka dan mengabarkan perkembangannya secara langsung.
Respon Enthrean untuk komentar gue di facebook page Eternal Grace. 
I hope this attitude stays with them and gets them far in the jungle that game-developing world is. In the meantime, lo bisa coba download versi trial dari Eternal Grace: Episode 1 dan kasih mereka masukan untuk remake-nya di masa mendatang.

Support our local game developers!

Kamis, 22 Maret 2012

[HOW TO] Oatmeal Egg Porridge

Salah satu resolusi gue tahun ini adalah nurunin berat badan yang udah membludak kayak sembako yang ditimbun sama spekulan. Maka, selain olahraga di gym, gue juga ngurangin makan nasi dan jadi sering makan oatmeal. Cuma, tau sendiri kan rasa oatmeal kayak apa. Hambar-hambar bikin eneg gimana gitu. Kalopun ditambah yang manis-manis kayak pisang dan susu, selain lama-lama eneg juga karena gue gak terlalu doyan manis, lemaknya juga lumayan dan bisa bikin diet gue gagal.
Untungnya, setelah beberapa kali eksperimen, gue nemu resep yang enak. Selain cocok buat sarapan, cocok juga buat comfort food atau cemilan tengah malam pengganti mie instan. Cara bikinnya juga gampang, gak pernah ke dapur (kayak gue) pun pasti bisa bikin! 8D

Maap, fotonya nggak terlalu menggiurkan xD
Bahan:
4 sendok makan oatmeal
1 butir telur, kocok lepas
1 cangkir air atau kaldu ayam
2 siung bawang putih, iris tipis
garam atau penyedap rasa ayam secukupnya
minyak goreng secukupnya

Catatan:
  • Gue pake oatmeal Quaker yang biru, yang khusus untuk dimasak. Yang varian merah itu oatmeal instan, untuk diseduh pake air panas doang.
  • Kalo pake kaldu ayam, berarti nggak usah pake penyedap lagi, pake garem aja. Kalo pake air, baru pake penyedap, biar nggak terlalu hambar rasanya.
  • Bawang putih bisa ditambah atau dikurangin jumlahnya, sesuai selera. Untuk ukuran gue yang suka bawang putih, 2 siung itu udah cukup berasa.

Cara bikinnya:
  1. Panasin minyak goreng pake api sedang, tumis bawang putih sampe harum.
  2. Masukin oatmeal, tumis sama bawang beberapa saat sampe merata.
  3. Masukin air/kaldu, aduk-aduk sampe mengental.
  4. Masukin telur, aduk-aduk, tambahin garam/penyedap. Jangan kebablasan nambahinnya; kalo kurang asin bisa ditambah garem/penyedap, tapi kalo keasinan kita gak bisa nambah takaran oatmeal/air, soalnya teksturnya bisa berubah.
  5. Kalo rasanya udah pas, terusin aduk sampe jadi bubur.
  6. Angkat dan MAKAN!
Udah, gitu doang. Gampang kan? Bikinnya juga cepet, kalo udah biasa gak nyampe 15 menit. Kalo ada yang punya resep beginian juga, bagi-bagi linknya di bagian comment yeee...

Itadakimasu! xD

Selasa, 20 Maret 2012

[REVIEW] HUGO (2011)

Director: Martin Scorsese
Casts: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloe G. Moretz


"Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason." - Hugo


Sebelumnya, mungkin gue mesti bilang dulu kalo gue sama sekali nggak punya kualifikasi untuk ngaku sebagai penggemar film. Dan gue juga bukan orang yang selalu ngikutin perkembangan film terbaru. Seringnya, kalo sempet atau ada duit (dan nggak males ngesot ke bioskop), baru gue nonton. Jadi sebenernya kapasitas gue untuk nge-review film sangat rendah.
Tapi setelah gue nonton Hugo, yang banyak dapet komentar 'membosankan', 'kepanjangan', 'nggak lebih dari film keluarga biasa', entah gimana gue ngerasa harus nulis review untuk ngebela film yang ternyata--di luar dugaan--gue suka banget ini. Karena, terus terang, gue nggak ngerti kenapa orang bisa nggak suka, bahkan benci sama ini film.

Hugo bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield) yang tinggal di balik tembok sebuah stasiun kereta. Dulu, Hugo tinggal sama ayahnya (Jude Law), seorang pembuat jam, di rumah mereka. Tapi setelah si ayah meninggal dalam sebuah kebakaran, Hugo dibawa pergi untuk tinggal di balik tembok stasiun oleh pamannya, Claude (Ray Winstone), seorang pemabuk yang kerja sebagai pengatur jam stasiun. Awalnya Hugo tinggal berdua sama si paman, tapi setelah ia menguasai cara mengatur jam stasiun, Claude pergi nggak jelas ke mana sehingga Hugo sendirian kayak sekarang.
Satu-satunya hiburan sekaligus hal yang ngasih Hugo semangat buat ngelanjutin hidup adalah sebuah automaton (manusia mekanik, sejenis robot yang beroperasi dengan kombinasi roda gigi) peninggalan ayahnya. Automaton tersebut ditemukan sang ayah dalam kondisi rusak, dan si ayah meninggal sebelum berhasil ngebenerin automaton itu. Yang Hugo tau, kalo udah bener, automaton itu bisa nulis, dan dia percaya bahwa apa yang ditulis automaton itu adalah pesan terakhir dari ayahnya.
Sayangnya, saat ketangkep nyuri suku cadang di toko mainan untuk ngelanjutin perbaikan automaton itu, buku catatan peninggalan ayah Hugo yang berisi cara ngebenerin automaton tersebut disita oleh Papa George (Ben Kingsley), si pemilik toko. Satu-satunya harapan Hugo untuk ngedapetin catetan itu lagi adalah Isabelle (Chloe G. Moretz), anak angkat Papa George. Dan Isabelle setuju untuk ngebantuin Hugo karena dia pengen ngerasain petualangan di luar lembaran buku-buku yang selama ini dia baca. Tapi, apa yang mereka dapet bukan sekedar petualangan ataupun buku catatan, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar dan ngerubah hidup mereka serta orang-orang di sekitarnya.

Dari premisnya, emang film ini kedengeran kayak 'film keluarga biasa'. Dan dengan setting Paris tahun 1930-an, gue juga nggak bisa bilang bahwa ini film paling colorful yang pernah gue tonton. Tapi menurut gue Hugo emang nggak punya pretensi untuk jadi film yang extraordinary atau eyegasmic. Di era di mana film-film dipenuhi attitude penjual obat--maksa, asal kenceng dan asal provokatif--a la Michael Bay, cara bercerita Scorsese dalam Hugo ngingetin gue sama kakek-kakek yang lagi mendongeng untuk cucunya--antusias, berbinar-binar, tapi nggak terburu-buru dan tetep sabar saat cucu-cucunya mulai gelisah dan nanya, "terus? Terus?" Tentu aja, ada cucu yang akan bilang, "kakek ceritanya bosenin ah!" Tapi bagi para cucu yang menahan diri untuk terus menyimak, mereka bakal tidur dengan mimpi indah dan tepukan kecil di dahi dari Grandpa Scorsese.

Kesederhanaan Hugo juga tercermin di departemen visualnya. Saat semua film 3D disalahgunakan untuk 'menonjolkan' alias bikin orang-orang ngerasa bakal dicolok-colok di mata, Hugo manfaatin 3D untuk 'menenggelamkan' alias bikin orang-orang ngerasa ditarik masuk ke dalam screen, sehingga kita seolah masuk ke stasiun kereta tempat Hugo tinggal dan bisa ngeliat sampe ke detil-detil yang paling kecil. Menurut gue, inilah penggunaan 3D yang cerdas dan pada tempatnya.

Kalo dibandingin, Hugo emang beda banget sama film-film Scorsese sebelumnya, dan gabungan antara cerita dengan cara berceritanya somehow ngingetin gue sama Grandpa Miyazaki dari studio Ghibli. Seorang anak biasa ketemu sama sesuatu yang menurut dia misterius atau luar biasa yang nyeret dia ke dalam suatu petualangan, yang akhirnya ngebawa dia ke sesuatu yang sangat deket sama dia sendiri tapi nggak pernah dia sadarin. Ghibli's stories remind us to never take anything in life for granted, no matter how trivial it may seem. Premis seperti ini bisa jadi cheesy, tapi Miyazaki nggak pernah gagal ngewujudinnya. Kali ini, Scorsese pun gue bilang sangat berhasil dengan Hugo.

Selain dari segi story dan director, gue juga pengen kasih highlight khusus ke Asa Butterfield dan Ben Kingsley untuk penampilan yang menurut gue sangat membumi, tapi dalem juga secara emosional. Kingsley emang aktor veteran yang produktif banget (walaupun gak semua film dan perannya bagus sih), tapi sebagai George Méliès, laki-laki tua yang dibebani luka dari masa lalu, beliau bener-bener bisa bikin gue ngebayangin gimana rasanya jadi seseorang yang dihancurkan dan dilupakan zaman, saat elo masih hidup. Sedangkan Asa Butterfield... well, damn. How old was he when he started filming Hugo? Sebelumnya gue udah bilang secara tersirat, nggak ada emotional rollercoaster yang terlalu dramatis dalam film ini, semuanya alami, nggak ada air mata atau kemarahan yang nggak perlu. Tapi Butterfield nunjukin sensibility alias kapasitas emosional yang dalam dan lebar, bahkan untuk ukuran aktor yang jauh di atas usianya. Gimana pemalu dan awkward-nya Hugo karena nggak punya temen, gimana dia nunjukin kekhawatirannya ke Isabelle hanya dengan genggaman tangan yang sekilas, gimana dia frustrasi dan marah, semuanya disampein dengan akting yang matang tapi nggak keluar dari kerangka karakter Hugo yang emang masih anak-anak. 

Bukan cuma Butterfield dan Kingsley. Sacha Baron Cohen sebagai inspektur stasiun ngasih comic relief yang ngeselin sekaligus atraktif buat Hugo, Chloe G. Moretz tampil adorable dalam porsi yang pas, Helen McCrory sebagai Mama Jeanne pun punya charm-nya sendiri. Bahkan karakter-karakter minor yang muncul secara reguler di stasiun juga ngasih kekuatan sendiri dalam dunia Hugo. Yah, mungkin sekali lagi gue harus memuji Scorsese, karena kalo ada sesuatu yang bisa dijamin dalam setiap filmnya, gue bilang itu adalah kekuatan karakter-karakternya. After all, he directed Taxi Driver, Casino and the Aviator, to name a few.

Seandainya gue harus nyebutin kekurangan film ini, mungkin gue akan bilang bahwa beberapa dialognya masih bisa diperkuat di sana-sini, tapi dengan dialog yang udah ada pun gue nggak ngerasa bermasalah untuk menangkap inti dan esensi ceritanya, bahkan untuk merenungkannya lebih jauh. Seperti line Hugo yang gue kutip di awal review ini, ketika dia bilang bahwa dunia ini adalah sebuah mesin dan manusia adalah bagiannya. Setiap bagian dari suatu mesin punya fungsinya sendiri-sendiri, jadi setiap manusia pun pasti punya tujuannya, kenapa dia ada dan hidup. Saat itu gue mikir bahwa, iya, tiap orang punya tujuan hidupnya sendiri-sendiri, hanya aja tujuan itu ditentukan oleh dirinya masing-masing. Human beings are self-defining spare-parts. Kita sendiri yang nentuin apa fungsi kita buat dunia, dan masing-masing dari kita menentukan bakal jadi mesin kayak gimana dunia yang kita tinggalin ini. 

Mungkin saat lo nonton film ini, lo bakal nemuin hal yang beda dari gue. Tapi yang jelas, gue cuma mau bilang satu hal: this film deserves a chance. It is not boring, it is not too long, and it is by no means "just your regular family movie". Go watch it in 3D while it's still showing in theatres near you.