Jumat, 23 Maret 2012

[RANTS & REVIEW] Eternal Grace: Episode 1

Saat ini, banyak engine seperti RPG Maker atau Ren'Py yang memungkinkan elo untuk bikin game tanpa harus membangun framework dari awal tapi tetep membebaskan elo untuk berkreasi membangun dunia, merancang gameplay dan karakter, serta finally menghasilkan game yang orisinil dari pikiran elo sendiri. Dengan adanya kemudahan yang disediakan engines semacam ini, indie developers yang punya kapital nggak sebesar game developer korporat bisa menghemat usaha, waktu dan duit untuk bikin game. Ini berdampak ke meledaknya jumlah game yang beredar terutama untuk PC dan tentunya ini adalah surga buat gue, gamer dunia ketiga sekaligus fakir console yang terpaksa jadi budak Kongregate di mana gue bisa nyari game-game gratisan yang bagus. Well, gak terpaksa juga sih, karena game-game di sana emang banyak yang bagus.

Anyway, surga bagi gamer nggak selalu berarti surga bagi developer. Karena, semakin mudah dan murah teknologinya, semakin kompetitif juga persaingan yang terjadi di antara para produsen. Gamer juga makin selektif dan pinter milih. Kalo 10 menit gue main game elo dan gue nggak suka, ngapain gue terusin? Toh masih banyak juga game lain yang lebih bagus dan gratis. Kalopun saat ini gak ada, gue nunggu seminggu juga paling udah keluar lagi game yang lain. In the meantime, gue bisa ngulang main game lama yang gue suka.

Lo bisa lihat, bahkan 'gratis' pun sekarang ini udah nggak bisa berperan sebagai insentif bagi gamer untuk mainin game lo. Di Kongregate dan situs sejenis seperti Armor Games atau Newgrounds, gamer akan nge-rating game elo dan rata-rata rating ini akan menentukan apakah game lo bakal muncul di front page atau di halaman-halaman awal hasil searching. Average rating ini vital, karena kalo ratingnya jelek, tentunya game lo gak akan terlalu banyak terekspos dan sebagai developer lo kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kredibilitas, suatu hal yang akan berguna banget di masa depan untuk nyari sponsor untuk game lo selanjutnya atau sekedar untuk ngelamar kerja di developer yang lebih gede.

Nah, kalo game yang gratisan aja kompetisinya seganas itu, apalagi yang bayar? Sejauh mana lo bisa meyakinkan gamer untuk beli game lo dan nyebarin testimonial bagus untuk game tersebut (which is essential karena indie developers seringkali cuma punya budget promosi pas-pasan)?


A Promising Local Indie J-RPG

Salah satu case study yang bagus menyangkut permasalahan ini adalah game Eternal Grace: Episode 1, sebuah J-RPG yang dikembangkan oleh indie developer lokal Enthrean Guardian dan diedarkan oleh Awi IT Pro serta Sumber Alam Production.

Looking good as far as a title screen goes.  
Pertama kali gue tau tentang game ini dari Atoh, gue langsung tertarik karena dari screenshots yang dipajang di artikel itu keliatan banget kalo ini game well-designed dari segi interface menu dan karakternya. Untuk ukuran indie developer lokal atau mana pun, I can tell that they spent a good time developing these features, terutama karena setelah googling, gue jadi tau kalo interface dan desain karakter Eternal Grace berkembang terus selama masa penyelesaian, dan, yang paling penting, bahwa Eternal Grace dikembangkan dengan RPG Maker. Terus terang, kalo gue cuma liat screenshot-nya, gue gak akan nyangka kalo ini bikinan indie developer lokal dan dibikin pake RPG Maker doang.

See what I mean?  
Selain itu, Enthrean Guardian (apakah kebetulan bahwa inisial nama developernya sama dengan inisial game pertama mereka? xD) juga udah nyoba untuk jadi developer profesional dengan menjual game mereka, walaupun masih terhitung cukup murah bagi sebuah J-RPG, yaitu seharga Rp 45,000.00. Menurut gue ini effort yang patut didukung, jadi gue langsung download trial version game ini buat bahan pertimbangan untuk beli atau nggak. Selain itu, review lain, antara lain dari klikgame dan duniaku, juga muji-muji game ini, bahkan sampe bilang 'spektakuler' segala, sebuah kata yang bakal gue ucapin dengan sangat hati-hati kalo gue reviewer beneran.


Story & Gameplay
"Plot Eternal Grace: Episode 1 cukup menarik. Berlatarbelakangkan dunia fiktif bernama Enthrea, permainan bermula dengan munculnya seorang kapten kapal bernama Lao dan awak-awak kapalnya. ... Mereka ingin menemukan seorang “Silver Assassin”. Cerita lantas melompat ke Razh Avandrey, seorang prajurit bayaran yang secara kebetulan bertemu gadis bernama Millia Melody dan terjebak dalam pertikaian dua kelompok besar: SOFRA dan ZNF." - Atoh.com
Karena gue gak pengen spoiler, juga terutama karena game ini masih episode 1 sehingga belum banyak perkembangan cerita yang ada, mending lo mainin langsung aja kalo pengen tau ceritanya. Yang pengen gue highlight di sini adalah gameplay-nya yang cukup mudah dimengerti, standar action-RPG. Saat non-battle mode, lo bisa berinteraksi sama lingkungan lo dengan tombol C, spacebar atau enter. Tombol ini juga berguna untuk mengeksekusi 'field-skill' karakter lo kayak Rahz yang bisa menebas semak-semak untuk berburu item atau Millia yang bisa nembak, which somehow reminds me of Wild Arms series. Lo juga bisa ganti karakter dengan Q baik di town, dungeon/worldmap atau battle. Untuk lebih jelasnya, soal kontrol ini bisa lo liat di menu 'option'.
Gue ngereview bukan bikin tutorial, nyet. 
Sementara itu, sistem battle-nya agak mengingatkan gue sama serial Star Ocean klasik, di mana lo harus menyerang musuh secara aktif. Lo cukup tekan C/spacebar/enter untuk attack, S untuk menggunakan Stuff (items) dan D untuk Might (special moves). Twist-nya adalah, kalo lo terus-menerus nyerang, stamina lo akan habis dan lo gak bisa nyerang lagi, sehingga lo harus lari dulu supaya bisa ngisi stamina lagi. Ini kadang agak mengganggu dinamika battle karena menurut gue dalam action-RPG intensitas itu penting. 

Yang lebih ganggu lagi, nggak ada sistem hotkeys untuk Might atau Stuff. Kayak yang tadi gue udah bilang, lo tinggal pencet S untuk make Stuff. Tapi untuk milih Stuff yang mau lo pake di antara 3 Stuff yang udah lo bawa untuk battle, lo harus mencet Z+S sampe kursor berenti di atas Stuff yang mau lo pake, baru pencet S. Dan saat lo ngelakuin itu semua, battle-nya kagak berenti kayak di Star Ocean. Meaning, lo bisa dikeroyok saat lo make healing Stuff dan bikin itu Stuff jadi percuma. Gitu juga dengan Might. Bukannya nyerang, lo malah sibuk lari karena kursor lo belum ada di atas Might yang mau lo pake. Setubuh apa (what the fuck), Dewa Game? Ini sungguhlah sepele, tapi akibatnya bisa menjadi sangat asu.

"1-2-3 buat Stuff dan 4-5-6 buat Might" gak kedengeran kayak fisika kuantum, kan?  
Hal-hal di atas itu nggak terlalu mengganggu di bagian awal game, sehingga gue bisa memutuskan untuk langsung membeli versi penuh dari game ini. Cuma semakin jauh game berjalan, semakin susah musuhnya, semakin mendesak juga rasanya kebutuhan gue akan sistem kontrol yang nyaman. After all, kayaknya bukan cuma gue gamer yang kesel kalo mati bukan karena kebodohan sendiri, tapi karena dihambat sistem game yang bersangkutan.


Gimmicks?

Well, lepas dari kekurangan di sistem battle-nya, menurut gue ada beberapa hal lain yang bikin Eternal Grace unik.

Pertama, keliatan banget kalo Enthrean berusaha untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia lewat game ini. Mulai dari munculnya geng penjahat bernama Kupluk Rangers, nama-nama NPC berbau Indonesia seperti 'Tedjo', pola batik yang muncul di status bar karakter saat battle dan di latar menu screen, sampe munculnya menu tradisional seperti 'bajigur' di bar. Kalo Enthrean bisa bikin elemen-elemen ini terintegrasi dengan baik ke plot dan world-building Eternal Grace seperti yang biasa dilakukan J-RPG dengan unsur tradisi Jepang, maka ini jadi suatu kelebihan. But no one likes bad 'filler episodes' of a good anime series, right? Kalo nggak hati-hati, elemen-elemen ini malah akan jadi tempelan yang mengganggu keseluruhan cerita dan desain game-nya.

Kedua, adanya mini-game Hexabattle. I don't have any negative comments about this feature except that I WANT MORE!

Distraksi sempurna dari quests dan leveling-up.
Card-battle ini mengingatkan gue sama Triple Triad (Final Fantasy VIII) atau Tetra Master (Final Fantasy IX), dua dari mini-games paling adiktif dalam RPG yang pernah gue mainin. Kalo lo bosen grinding, penggemar permainan bertipe brain teaser atau emang lo tipe gamer yang suka ngoleksi, card-game ini pasti cocok buat elo. Gue sendiri emang suka game semacam ini, tapi sayangnya jumlah NPC yang bisa gue tantangin main Hexabattle juga terbatas. Kalo jumlah NPC dan varian kartu ditambah serta ada card-related quest, mini-game ini bisa jadi salah satu feature unggulan dari Eternal Grace.


Verdict

Oke, kita udah sampe ke bagian akhir dari review bertele-tele ini. Kesimpulan gue, dengan memperhitungkan seluruh kelebihan dan kekurangannya, Eternal Grace: Episode 1 is a decent game. It is by no means 'spektakuler' kayak yang dibilang klikgame, tapi by 'decent', I use general standards. Gue nggak membandingkannya dengan RPG Maker games lain, karena sejujurnya game ini udah bukan ada di level itu lagi. This is a decent game even by professional developers' standards, walaupun jelas masih terlalu prematur untuk ngebandinginnya dengan raksasa developer kayak Konami dan kawan-kawan. Masih perlu banyak perbaikan dari sisi gameplay seperti yang udah gue contohin di atas dengan battle-control-nya. Dialog antara Rahz dan Millia juga mestinya diperkuat karena somehow menurut gue humor di antara mereka nggak terlalu bekerja dengan baik, malah bikin Millia terancam jadi karakter yang lebih banyak annoying-nya daripada charming-nya. Walaupun emang 'gengges' adalah bagian dari personality Millia, tapi gamer punya batas kesabaran saat harus disuruh peduli dan ngendaliin karakter yang bikin males. Dan kalo ini sampe kejadian, sayang banget karena desain karakternya sendiri udah bagus.

In the end, gue bisa bilang bahwa gue nggak nyesel beli versi full dari game ini, karena semua kekurangan itu nggak signifikan dibandingkan kelebihannya dan karena, I'll say it again, this is a decent game, terutama dengan harga yang cuma Rp 45,000.00 aja.

Tapi, sebelum lo beli, lo mungkin mau tanya ke Enthrean lewat situs, akun twitter atau facebook page mereka, kapan versi remake dari Eternal Grace: Episode 1 akan dirilis. Dari jawaban atas komentar gue di facebook page Eternal Grace, sepertinya mereka bakal ngerilis versi baru yang lebih sempurna, dengan hints dan sistem kontrol yang diperbaiki. Gue sendiri antusias nungguin versi remake Eternal Grace: Episode 1, selain karena ini indie game lokal yang potensial, gue suka liat attitude Enthrean sebagai developer yang semangat banget 'jemput bola' sampe ke forum-forum game untuk memperkenalkan game mereka dan mengabarkan perkembangannya secara langsung.
Respon Enthrean untuk komentar gue di facebook page Eternal Grace. 
I hope this attitude stays with them and gets them far in the jungle that game-developing world is. In the meantime, lo bisa coba download versi trial dari Eternal Grace: Episode 1 dan kasih mereka masukan untuk remake-nya di masa mendatang.

Support our local game developers!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar