Kamis, 29 Maret 2012

[REVIEW +colongan] Dari Zombie Apocalypse ke Manga "Kanojo o Mamoru 51 no Houhou"

Selasa tanggal 13/03 pagi, gue liat ada mention menarik dari Atri. Dia nge-cc link berita dari akun @TIME (yes, the almighty TIME magazine) tentang 'zombie-fighting course' yang lagi ditawarin sama sebuah universitas di Amerika.

Tweet termaksud.
Berhubung gue cukup suka sama segala hal berbau zombie (cukup suka untuk bikin zombie apocalypse squad bareng sekelompok temen sepergilaan), maka dengan antusias gue langsung klik link berita itu. Setelah baca, gue malah sebel setengah mampus sama TIME, yang notabene adalah salah satu media terbesar di dunia, karena judul artikel, tweet tentang artikel itu, sama isi artikelnya sendiri nggak nyambung. Intinya, judul dan tweet soal artikel tersebut terlalu menyederhanakan course yang ditawarkan. Iya sih, gue tau, media online harus selalu bikin judul dan tweet yang menarik supaya orang mau nge-klik link ke situs mereka. But it's friggin' TIME magazine, and the article is about a reputable American university offering a serious course on friggin' zombie apocalypse. People would click that link.

Kenapa gue bilang 'zombie-fighting course' itu over-simplifying? Karena di course yang judulnya Surviving the Coming Zombie Apocalypse: Catastrophes & Human Behavior itu, fokus utamanya bukan zombie. Artikel itu sendiri bilang, "...the course will cover events like the Great Plague and disastrous earthquakes, before moving on to a theoretical zombie invasion." Jadi course itu sebenernya adalah tentang dampak bencana berskala besar (yang mengakibatkan kemusnahan massal) terhadap kemanusiaan atau humanity. Staf pengajar course itu, Glen Stutzky, juga nambahin statement yang nampol banget: "In a time of catastrophe, some people find their humanity; others lose theirs."

Makanya menurut gue sayang aja kalo poin-poin sebagus itu direduksi jadi Walking Dead 101: University to Offer Zombie-Fighting Course (iye, itu judul artikelnye), yang bikin kelas itu jadi kedengeran kayak sekelompok nerd dan conspiracy-buffs latian headshot pake orang-orangan sawah dan pistol berpeluru sedotan WC mini (itu loh, yang ada ujung karetnya, yang bisa nempel di kaca, entah apa itu namanya). Belum lagi pake embel-embel "Walking Dead", yang, without doubt, mengacu ke sebuah serial TV busuk (well, season 1 keren, sih) bergenre telezombienovela. Dan plis jangan bilang, "tapi kan Walking Dead itu dari komik!" Gak penting. Sebelum jadi serial TV, populasi penggemar komik itu paling cuma tahan 3 detik kalo adu tarik tambang sama penggemar Twilight. Kaga usah repot-repot.

Hhh. Oke. Enough about TIME magazine dan kenorakan mereka.

Yang sebenernya paling pengen gue omongin di sini adalah semua hal yang dibilang Glen Stutzky tentang bencana dan kemanusiaan itu bikin gue inget sama salah satu manga paling powerful yang pernah gue baca. Bukan cuma karena manga itu emang bagus menurut gue, tapi karena gue bener-bener bisa relate sama apa yang diceritain di situ.

Manga yang gue bicarain ini berjudul Kanojo o Mamoru 51 no Houhou (彼女を守る51の方法) atau 51 Ways to Protect Her dalam Bahasa Inggris, ditulis oleh mangaka Furuya Usamaru.

Demi kemaslahatan umat, judul panjang dan ribet ini selanjutnya kita singkat jadi 51 Ways...
Plotnya sederhana aja. Jin Mishima, anak kuliahan tahun terakhir, lagi ada di Odaiba, Tokyo, untuk ngelamar kerja jadi pembaca berita di sebuah stasiun TV. Di daerah tersebut dia ketemu sama temen SMP-nya, Nanako Okano, yang sekarang udah jadi gothic lolita merangkap groupie band visual-kei Sarin Helnwein. Saat keduanya lagi nginget-nginget masa lalu yang nggak terlalu menyenangkan, mendadak Tokyo diguncang gempa berkekuatan 8.1 SR yang bikin orang-orang, termasuk Jin dan Nanako, terkurung di antara reruntuhan kota Tokyo. Akhirnya mereka sepakat untuk jadi temen seperjalanan untuk keluar dari kota yang hancur itu, menuju daerah rumah mereka di Waseda. Dan manga ini bercerita tentang apa aja yang terjadi, juga orang-orang yang mereka temuin, selama beberapa hari perjalanan mereka itu.

Udah, gitu doang. Simpel, kan? Well, premis boleh simpel, tapi kekuatan 51 Ways... adalah pada realismenya dalam menggambarkan dampak bencana pada diri manusia, secara fisik maupun mental. Sebagai orang yang ngalamin sendiri gempa Jogja tahun 2006, gue sangat familiar dengan apa yang digambarkan Usamaru-sensei di manga ini.

Bener-bener de javu yang nggak menyenangkan.
Dalam 51 Ways..., yang paling mengerikan justru bukan akibat fisik dari bencana itu, tapi apa yang diakibatkan oleh bencana itu terhadap kondisi kejiwaan orang-orang yang mengalami. Misalnya, saat Jin masuk ke sebuah pertokoan untuk mencoba menyelamatkan orang-orang yang tertindih reruntuhan namun masih hidup, tapi terpaksa ninggalin mereka semua untuk mati karena selain dia nggak bisa ngapa-ngapain, dia pun bakalan ikut terjebak atau mati di situ kalo ada gempa susulan. Kejadian ini membekas banget di Jin dan menurut gue siapa pun yang mengalami hal semacam ini kalo gak sakit jiwa pasti bakalan trauma.

Semua kesakitan dan minta tolong, tapi lo gak bisa ngapa-ngapain.
Usamaru-sensei emang jago banget menggambarkan pergolakan batin manusia ketika mereka terjepit dan harus mikirin segala cara yang mungkin dilakukan untuk bertahan hidup. Tapi bukan cuma yang angsty dan gloomy, beliau juga ngasih liat gimana beberapa orang tetep bisa saling tolong, bahkan mengorbankan diri buat keselamatan orang lain. Seperti salah satu arc favorit gue di 51 Days..., "Women's Stronghold", yang ngeliatin gimana cewek-cewek gaul Shibuya bikin penampungan khusus perempuan supaya mereka nggak kena pelecehan seksual.
Badass mamasitas.
Realitas kemanusiaan yang bertolak belakang ini nggak cuma terjadi di dalem komik aja, walaupun seberapa riil atau hiperbolisnya kita nggak tau karena gue belum pernah liat bencana sebesar ini dan gue gak pengen liat. Amit-amit, jangan sampe. Tapi, lo boleh cek ke orang-orang yang pernah ngalamin bencana sebelumnya, hal-hal seperti penjarahan, perkelahian, bahkan pemerkosaan itu bukan sesuatu yang asing saat bencana besar terjadi. Mau itu gempa/tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, gempa Padang 2009, letusan Merapi 2010, pasti ada kejadian semacam itu, walaupun mungkin nggak masuk ke media-media besar. Cuma, lo juga mesti liat gimana bencana ini bagi sebagian orang justru menggerakkan bagian diri mereka yang rela nyusahin diri sendiri buat orang lain, bahkan saat mereka sebenernya lagi kesusahan juga. Persis kayak yang dibilang Stutzky di atas: "some people find their humanity, some lose theirs".

51 Ways... terdiri dari 49 chapter, which is nggak panjang, cuma 5 volume doang. Pace ceritanya cukup cepat dan elo nggak akan ngerasa bosen, cocok lah buat maraton di akhir minggu. Well, mungkin beberapa akan ngerasa sebel sama karakter Nanako yang mirip NPC gak guna dan gampang mati yang harus lo kawal di game-game action-shooting, tapi menurut gue justru perkembangan karakter Nanako jadi salah satu bagian yang menarik dari 51 Ways....

Kalo tertarik, silakan baca manga ini di sini, dan gue minta maaf sebelumnya karena lagi-lagi tulisan gue terlalu panjang dan bertele-tele. Gue sangat menyarankan manga ini buat lo yang lebih suka cerita-cerita yang lebih realistis dan dewasa, a la graphic novel. If you have anything to say about this topic or the review, don't hesitate to drop a comment!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar