Selasa, 20 Maret 2012

[REVIEW] HUGO (2011)

Director: Martin Scorsese
Casts: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloe G. Moretz


"Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason." - Hugo


Sebelumnya, mungkin gue mesti bilang dulu kalo gue sama sekali nggak punya kualifikasi untuk ngaku sebagai penggemar film. Dan gue juga bukan orang yang selalu ngikutin perkembangan film terbaru. Seringnya, kalo sempet atau ada duit (dan nggak males ngesot ke bioskop), baru gue nonton. Jadi sebenernya kapasitas gue untuk nge-review film sangat rendah.
Tapi setelah gue nonton Hugo, yang banyak dapet komentar 'membosankan', 'kepanjangan', 'nggak lebih dari film keluarga biasa', entah gimana gue ngerasa harus nulis review untuk ngebela film yang ternyata--di luar dugaan--gue suka banget ini. Karena, terus terang, gue nggak ngerti kenapa orang bisa nggak suka, bahkan benci sama ini film.

Hugo bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield) yang tinggal di balik tembok sebuah stasiun kereta. Dulu, Hugo tinggal sama ayahnya (Jude Law), seorang pembuat jam, di rumah mereka. Tapi setelah si ayah meninggal dalam sebuah kebakaran, Hugo dibawa pergi untuk tinggal di balik tembok stasiun oleh pamannya, Claude (Ray Winstone), seorang pemabuk yang kerja sebagai pengatur jam stasiun. Awalnya Hugo tinggal berdua sama si paman, tapi setelah ia menguasai cara mengatur jam stasiun, Claude pergi nggak jelas ke mana sehingga Hugo sendirian kayak sekarang.
Satu-satunya hiburan sekaligus hal yang ngasih Hugo semangat buat ngelanjutin hidup adalah sebuah automaton (manusia mekanik, sejenis robot yang beroperasi dengan kombinasi roda gigi) peninggalan ayahnya. Automaton tersebut ditemukan sang ayah dalam kondisi rusak, dan si ayah meninggal sebelum berhasil ngebenerin automaton itu. Yang Hugo tau, kalo udah bener, automaton itu bisa nulis, dan dia percaya bahwa apa yang ditulis automaton itu adalah pesan terakhir dari ayahnya.
Sayangnya, saat ketangkep nyuri suku cadang di toko mainan untuk ngelanjutin perbaikan automaton itu, buku catatan peninggalan ayah Hugo yang berisi cara ngebenerin automaton tersebut disita oleh Papa George (Ben Kingsley), si pemilik toko. Satu-satunya harapan Hugo untuk ngedapetin catetan itu lagi adalah Isabelle (Chloe G. Moretz), anak angkat Papa George. Dan Isabelle setuju untuk ngebantuin Hugo karena dia pengen ngerasain petualangan di luar lembaran buku-buku yang selama ini dia baca. Tapi, apa yang mereka dapet bukan sekedar petualangan ataupun buku catatan, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar dan ngerubah hidup mereka serta orang-orang di sekitarnya.

Dari premisnya, emang film ini kedengeran kayak 'film keluarga biasa'. Dan dengan setting Paris tahun 1930-an, gue juga nggak bisa bilang bahwa ini film paling colorful yang pernah gue tonton. Tapi menurut gue Hugo emang nggak punya pretensi untuk jadi film yang extraordinary atau eyegasmic. Di era di mana film-film dipenuhi attitude penjual obat--maksa, asal kenceng dan asal provokatif--a la Michael Bay, cara bercerita Scorsese dalam Hugo ngingetin gue sama kakek-kakek yang lagi mendongeng untuk cucunya--antusias, berbinar-binar, tapi nggak terburu-buru dan tetep sabar saat cucu-cucunya mulai gelisah dan nanya, "terus? Terus?" Tentu aja, ada cucu yang akan bilang, "kakek ceritanya bosenin ah!" Tapi bagi para cucu yang menahan diri untuk terus menyimak, mereka bakal tidur dengan mimpi indah dan tepukan kecil di dahi dari Grandpa Scorsese.

Kesederhanaan Hugo juga tercermin di departemen visualnya. Saat semua film 3D disalahgunakan untuk 'menonjolkan' alias bikin orang-orang ngerasa bakal dicolok-colok di mata, Hugo manfaatin 3D untuk 'menenggelamkan' alias bikin orang-orang ngerasa ditarik masuk ke dalam screen, sehingga kita seolah masuk ke stasiun kereta tempat Hugo tinggal dan bisa ngeliat sampe ke detil-detil yang paling kecil. Menurut gue, inilah penggunaan 3D yang cerdas dan pada tempatnya.

Kalo dibandingin, Hugo emang beda banget sama film-film Scorsese sebelumnya, dan gabungan antara cerita dengan cara berceritanya somehow ngingetin gue sama Grandpa Miyazaki dari studio Ghibli. Seorang anak biasa ketemu sama sesuatu yang menurut dia misterius atau luar biasa yang nyeret dia ke dalam suatu petualangan, yang akhirnya ngebawa dia ke sesuatu yang sangat deket sama dia sendiri tapi nggak pernah dia sadarin. Ghibli's stories remind us to never take anything in life for granted, no matter how trivial it may seem. Premis seperti ini bisa jadi cheesy, tapi Miyazaki nggak pernah gagal ngewujudinnya. Kali ini, Scorsese pun gue bilang sangat berhasil dengan Hugo.

Selain dari segi story dan director, gue juga pengen kasih highlight khusus ke Asa Butterfield dan Ben Kingsley untuk penampilan yang menurut gue sangat membumi, tapi dalem juga secara emosional. Kingsley emang aktor veteran yang produktif banget (walaupun gak semua film dan perannya bagus sih), tapi sebagai George Méliès, laki-laki tua yang dibebani luka dari masa lalu, beliau bener-bener bisa bikin gue ngebayangin gimana rasanya jadi seseorang yang dihancurkan dan dilupakan zaman, saat elo masih hidup. Sedangkan Asa Butterfield... well, damn. How old was he when he started filming Hugo? Sebelumnya gue udah bilang secara tersirat, nggak ada emotional rollercoaster yang terlalu dramatis dalam film ini, semuanya alami, nggak ada air mata atau kemarahan yang nggak perlu. Tapi Butterfield nunjukin sensibility alias kapasitas emosional yang dalam dan lebar, bahkan untuk ukuran aktor yang jauh di atas usianya. Gimana pemalu dan awkward-nya Hugo karena nggak punya temen, gimana dia nunjukin kekhawatirannya ke Isabelle hanya dengan genggaman tangan yang sekilas, gimana dia frustrasi dan marah, semuanya disampein dengan akting yang matang tapi nggak keluar dari kerangka karakter Hugo yang emang masih anak-anak. 

Bukan cuma Butterfield dan Kingsley. Sacha Baron Cohen sebagai inspektur stasiun ngasih comic relief yang ngeselin sekaligus atraktif buat Hugo, Chloe G. Moretz tampil adorable dalam porsi yang pas, Helen McCrory sebagai Mama Jeanne pun punya charm-nya sendiri. Bahkan karakter-karakter minor yang muncul secara reguler di stasiun juga ngasih kekuatan sendiri dalam dunia Hugo. Yah, mungkin sekali lagi gue harus memuji Scorsese, karena kalo ada sesuatu yang bisa dijamin dalam setiap filmnya, gue bilang itu adalah kekuatan karakter-karakternya. After all, he directed Taxi Driver, Casino and the Aviator, to name a few.

Seandainya gue harus nyebutin kekurangan film ini, mungkin gue akan bilang bahwa beberapa dialognya masih bisa diperkuat di sana-sini, tapi dengan dialog yang udah ada pun gue nggak ngerasa bermasalah untuk menangkap inti dan esensi ceritanya, bahkan untuk merenungkannya lebih jauh. Seperti line Hugo yang gue kutip di awal review ini, ketika dia bilang bahwa dunia ini adalah sebuah mesin dan manusia adalah bagiannya. Setiap bagian dari suatu mesin punya fungsinya sendiri-sendiri, jadi setiap manusia pun pasti punya tujuannya, kenapa dia ada dan hidup. Saat itu gue mikir bahwa, iya, tiap orang punya tujuan hidupnya sendiri-sendiri, hanya aja tujuan itu ditentukan oleh dirinya masing-masing. Human beings are self-defining spare-parts. Kita sendiri yang nentuin apa fungsi kita buat dunia, dan masing-masing dari kita menentukan bakal jadi mesin kayak gimana dunia yang kita tinggalin ini. 

Mungkin saat lo nonton film ini, lo bakal nemuin hal yang beda dari gue. Tapi yang jelas, gue cuma mau bilang satu hal: this film deserves a chance. It is not boring, it is not too long, and it is by no means "just your regular family movie". Go watch it in 3D while it's still showing in theatres near you.

2 komentar:

  1. Great review.
    Ini sama persis dengan yang gue rasakan pas nonton ini film di bioskop.
    Heran kok ada temen gw yang bilang filmnya ngebosenin.
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for reading! Gue maklum sih kalo ada yang bilang filmnya ngebosenin, soalnya pace-nya memang lambat. Tapi dengan muatan dan cerita yang se-delicate itu sepertinya emang nggak bisa buru-buru atau cerita itu sendiri nggak akan 'mengendap' di kepala (dan hati) penontonnya. At least menurut gue gitu. 8D

      Hapus