Jumat, 30 Maret 2012

Satu alasan kecil kenapa cara lo make twitter itu penting.

Timeline twitter gue lagi ribut karena demonstrasi nolak kenaikan harga BBM di daerah Diponegoro dan (terutama) Salemba, Jakarta, rusuh. Seperti biasa gue menahan diri untuk nggak komentar karena selain nambah-nambahin panas suasana, gue juga nggak ngikutin banget beritanya. Soalnya gue nggak nonton TV dan lebih suka baca koran besok paginya. Menurut gue, berita di koran cetak lebih bisa dipertanggungjawabkan karena ada jarak antara waktu reportase, penulisan dan naik cetak, nggak kayak berita di media online dan live TV yang terkesan instan dan minim supervisi. Belum lagi pengaruh adrenalin si reporter sendiri yang mungkin aja bikin dia jadi kelupaan sesuatu yang harusnya diomongin atau malah nambahin sesuatu yang harusnya nggak diomongin. Selain itu, gue sendiri juga udah lebih tenang dan lebih rasional saat gue baca koran keesokan harinya, jadi gue bisa menilai dan berkomentar dengan lebih bertanggungjawab.

Salahnya, gue tetep aja mantengin timeline--walaupun udah niat log off, sayangnya telat--dan akhirnya baca tweet yang bikin gue marah.

Look what mere issues can do to people's state of mind.
Gue nggak tau pasti tetangga toko ibu Mbak @inistephanie bisa panik karena denger isu dari mana. Bisa dari nonton TV, bisa juga dari BBM atau isu mulut-ke-mulut. Kalo soal media, gue gak perlu komentar apa-apa lagi selain mereka memang udah lama nggak punya orientasi untuk jadi pelayan publik di bidang informasi, cuma mentingin rating demi pemasukan--dan bagi mereka, terutama media semacam TVOne yang isinya gak pernah bisa dipertanggungjawabkan--kontroversi berarti rating. Mereka nggak peduli kalo menyiarkan berita yang gak jelas macam "delapan mahasiswa terluka dan satu orang tewas tertembus peluru tajam" itu bakal bikin panik orang-orang yang nggak tau apa-apa. Banyak juga anak Jakarta yang ngetweet maupun bilang langsung ke gue kalo orang tua mereka nelpon dengan nada panik karena takut anaknya kenapa-kenapa. Buat yang nonton TVOne, yang kebayang adalah "Jakarta rusuh". Bukan Salemba atau Diponegoro doang.

Media bodoh dan jahat, itu sudah jelas. Yang gue sesalkan dan bikin lebih marah adalah karena di timeline gue banyak banget yang merelai berita semacam itu dari timeline entah siapa, yang gak bisa diverifikasi baik isi tweet maupun identitas pemilik akunnya. Bahkan orang-orang dengan followers ribuan dan influence lumayan ikutan nyebarin berita-berita nggak jelas ini.

Sepertinya banyak di antara twitter users yang nggak sadar bahwa memiliki akun twitter bisa disamakan dengan memiliki media pribadi. Followers adalah audiens dan following adalah (satu di antara banyak) sumber informasi--sedikit banyak kita terpengaruh oleh following dan followers pun terpengaruh oleh kita. Itulah sebabnya kenapa twitter disebut media sosial; karena apa yang dilakukan satu aktor mempengaruhi/dipengaruhi aktor lain di dalamnya. Mungkin lo pikir, lo cuma menyuarakan apa yang ada di kepala lo sekarang. Tapi lo nggak sadar bahwa apa yang lo suarakan itu menimbulkan efek yang nggak keliatan--yang nggak lo tau. Makanya, seperti semua hal lain yang elo lakukan--boker sekalipun--akun twitter lo harus lo pake dengan kesadaran. Bukan cuma tentang 'apa' yang elo omongin lewat akun lo, tapi 'kapan' dan 'gimana' juga. Nggak ada cara untuk memastikan siapa aja yang nge-follow elo dan dengan cara seperti apa mereka akan terpengaruh oleh isi tweet lo, jadi mestinya wajar kalo gue berharap seseorang mau mikir berkali-kali sebelum ngetweet, apalagi tentang hal-hal yang sifatnya sensitif atau kontroversial. Gue juga sering ngawur, tapi gue berusaha untuk minta maaf kalo ada yang tersinggung sama pendapat atau cara gue nge-tweet dan sekarang gue juga gak akan segan untuk menghapus tweet gue kalo gue sadar itu salah. Gue tetep bebas kok ngomongin apa yang gue mau. Hak-hak pribadi dan kebebasan gue nggak terlanggar. Cuma gue bertenggang rasa aja, karena gue di twitter nggak sendirian.

Terus, dengan semua ocehan--yang gue akui sedikit atau mungkin sangat sok tau--di atas, apa gue mau nuduh kepanikan tetangga toko ibunya Mbak @inistephanie itu gara-gara twitter? Nggak, tapi ada kemungkinan bahwa tweet atau retweet lo menimbulkan kepanikan sejenis terhadap orang lain. Mungkin ada di antara lo yang merasa bahwa lo juga korban kesimpang-siuran dan kepanikan follower elo bukan salah lo, tapi kalo semua orang make akun twitternya dengan bertanggung jawab, berita gak jelas ini pun gak akan tercipta in the first place. Gak semua di twitter punya tingkat kebijaksanaan yang sama untuk memproses berita, begitu juga followers elo, dan kalo lo ngerasa lo bukan orang yang mampu bertanggung jawab ama isi timeline lo, mending lo kunci aja akun lo dan ngomong sendiri. Dengan begitu, lo gak akan mempengaruhi siapa pun dan nggak harus bertanggung jawab pada siapa pun. If you want to interact with people or to get their attention, lo harus konsekuen dan siap untuk ngasih penjelasan atau meminta maaf--bahkan jika risikonya lo dibilang twitwar sama orang-orang yang nggak paham bahwa debat adalah tanda bahwa dua orang punya kedudukan setara sebagai manusia yang berhak berpendapat, bukan tanda bahwa dua orang itu lagi musuhan.

Nggak susah, kan? Toh sebenernya di semua aspek kehidupan lain kita juga menerapkan hal yang sama. So I think this is not so much to ask for. Dan kalo cara gue meminta ini terlalu arogan dan menghakimi, gue minta maaf. Gue cuma percaya, cara seseorang melakukan satu hal adalah caranya melakukan segala hal. Kalo kita punya kendali penuh atas diri sendiri saat twitteran, berarti kita juga cenderung punya kendali penuh atas diri sendiri saat ngelakuin hal-hal lain. Mungkin bisa dibilang, twitter melatih kepribadian dan cara berpikir gue. Works quite well so far, menurut orang-orang terdekat. Maybe you should try, too, starting from now.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar