Minggu, 24 Maret 2013

Kenapa spoiler dalam review film nggak (selalu) salah


Okay.

Gue bukan orang yang suka sama spoiler, bahkan gue termasuk golongan anti-spoiler yang bakal langsung unfollow orang kalo dia ngetwit spoiler di timeline twitter gue, gak peduli siapa. I don’t care—to me, one of the joy in crafting or being an audience of a story is the secrets, the unsuspected developments that come as the plot goes. Kecuali penulisnya sendiri, gue rasa ga ada yang berhak ngerusak kesenangan ini.

Tapi prinsip di atas berlaku cuma dalam konteks sehari-hari aja, ketika ngobrol sama temen atau dalam suasana kasual. Ada kondisi di mana spoiler bisa dibenarkan, bahkan dalam beberapa kasus diharuskan. Salah satunya adalah ketika kita lagi nulis review dari sebuah cerita, baik itu berbentuk buku, film, atau apa pun. Makanya gue heran karena kenapa dalam komentar terhadap artikel yang mengkritisi film Hasduk Berpola ini, pembuat film dan para pendukungnya berusaha untuk menjatuhkan kredibilitas penulis artikel tersebut dengan mengatakan bahwa nggak seharusnya sebuah review mengandung spoiler cerita.

Kenapa gue bilang spoiler dalam review bisa dibenarkan?

Coba kita liat dulu definisi kata tersebut. Menurut Oxford Dictionaries, review adalah “a critical appraisal of a book, play, movie, exhibition, etc., published in a newspaper or magazine. Menurut dictionary.com, “a critical article or report, as in a periodical, on a book, play, recital, or the like; critique; evaluation”.

Lo boleh cari definisi lain, gue rasa jatuhnya nggak akan beda jauh. Buat pembanding, kalo lo cari di thesaurus.com, yang akan keluar sebagai definisi dari review adalah “examination, study” dan sinonimnya antara lain analysis, audit, check, inspection, blawrghearngahga—ya ngerti lah kurang lebihnya, kalo nggak go to school, you motherfu… sori, agak kebawa suasana.

Nah, setelah tau artinya, gue mau tanya: gimana lo bisa melakukan satu evaluasi, analisis, inspeksi, penilaian menyeluruh terhadap sesuatu, kalo lo nggak memeriksa dengan seksama setiap elemennya? Dan bagaimana lo bisa mempertanggungjawabkan kesimpulan dari evaluasi lo itu kalo lo nggak mencantumkan setiap argumennya? 

Review bukan sekedar kesan dan pesan, lo harus punya argumentasi kenapa lo suka atau nggak suka sama sesuatu. Seringkali, beberapa unsur cerita jadi alasan kenapa lo suka atau nggak suka, sehingga spoiler nggak bisa dihindari dalam rangka menulis review. Ini nggak masalah, karena lo memang harus mempertanggungjawabkan statement lo, penilaian lo. Masa iya lo mau bilang, “menurut gue film ini nggak bagus karena nggak masuk akal, tapi gue ga mau spoiler, jadi lo tonton sendiri aja biar tau nggak masuk akalnya di mana.” Kalo itu temen gue sih, ga masalah. Tapi kalo jurnalis film nulis kaya gitu di rubrik review, ya mending gue gebukin aja. Buang-buang waktu, nyet.

Terus terang dulu gue juga sempet nggak suka sama spoiler di rubrik review, tapi sekarang gue mikir, mungkin itu karena gue dulu, dan banyak orang lainnya, terlalu nggak acuh sama terminologi. Kalo mau ulasan bebas spoiler, mungkin nama rubrik tersebut harusnya rekomendasi, bukan review. Selama ini kita nggak bisa membedakan review dan rekomendasi, jadi ekspektasi kita akan sebuah review ya rancu juga.

Begitulah. Gue nulis ini bukan in defense of Adrian Jonathan, orang yang nulis kritik ke film Hasduk Berpola, sih. Gue rasa dia nggak butuh defense, karena kalimat 'jurnalis film kok nulis review pake spoiler' itu ditujukan untuk semata-mata menjatuhkan kredibilitas dia. Intinya, si sutradara dan temen-temennya mau ngomong 'gue gak terima', dan desperate cari cara biar si kritikus keliatan nggak signifikan. Gue nulis ini karena ada beberapa orang yang masih nggak bisa bedain yang mana spoiler yang dibenarkan dibutuhkan dan yang mana yang nggak.

So, yeah, I still hate spoilers, tapi nggak berarti spoiler itu selalu dosa.

3 komentar:

  1. Hahaha, iya :D Kalau ada tulisan dengan tag 'review', ya itu salah lu sendiri kalau akhirnya ngomyang, "Kenapa sih harus ada spoiler-nya!" (meski ada juga beberapa blogger baik hati yang memutuskan memberikan spoiler tag atau menambahkan font color yang senada dengan background). Bahkan kadang kala plot summary itu dibutuhkan untuk menentukan apakah kita mau ikut menikmati sendiri cerita yang disuguhkan atau tidak.

    Tapi kalau obrolan di timeline yang mau ngasih spoiler tag pun juga susah karena tetap bakal kebacanya seluruhnya, beuh, jangan coba-coba deh. Mending diulas di blog dan baru tautannya dilampirkan di twitter :|

    Tambahan lagi spoiler buat manga. Aku bukan penikmat scanlation, sih. Tapi aku juga gak selalu ceramah supaya orang lain berhenti menikmati scanlation. Cuman sering kali harus ngomyang gini, "Nying, gw bayar ya buat baca komik, gw beli, lu cuma baca scanlation gratisan, hambokyao gak usah ngerusak kesenangan gw, toh kesenangan lu baca scanlation juga bukannya gw gangguin."

    *kemaren barusan ngamuk karena ada yang dengan santainya membahas chapter terbaru manga yang aku ikuti*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, twitter itu juga termasuk situasi kasual yang aku bahas di atas. Twitter itu sifatnya mirip banget percakapan sehari-hari. Kamu ngetwit (ngomong), orang baca (denger). Tanpa tau tentang apa tweet kamu itu. Sedangkan di blogpost orang biasanya udah tau sebelumnya dari judul tulisan atau kalimat-kalimat awal, apa sih isi post itu. Nah dari situ dia bisa memutuskan mau meneruskan baca atau enggak. Kalo twitter mah, sekali baca ya terlanjur basah. Makanya aku pikir pengguna twitter harusnya lebih considerate soal ini.

      Hapus
    2. Koreksi, maksudnya 'tanpa tau terlebih dulu tentang apa tweet kamu itu'.

      Hapus