Minggu, 21 April 2013

Kenapa nggak boleh bawain lagu sendiri di acara tribute?

Gue lagi mempersiapkan #1YearLarukuJKT, tribute event buat L'Arc~en~Ciel yang bakal diadain bertepatan dengan momentum satu tahun konser #LarukuJKT, seperti mungkin udah lo duga dari namanya. Waktu diskusi soal sistematika pemilihan lagu, gue dan Macan, partner gue dalam bikin acara ini, sedikit berselisih paham. Menurut gue, dalam acara tribute, menyelipkan--berarti minoritas--lagu orisinil milik performer itu oke-oke aja, tapi menurut Macan, ini mungkin melawan ekspektasi penonton. Dan memang, waktu gue melempar pertanyaan ke timeline, menurut sebagian besar yang jawab, ini ganggu, bahkan ada yang bilang terkesan aji mumpung. Karena ini, gue memutuskan untuk nurut sentimen mayoritas--performer #1YearLarukuJKT hanya boleh membawakan lagu Laruku.

Tapi, terus terang jawaban itu bikin gue mengernyitkan dahi. Memang dalam acara tribute, yang berarti persembahan, sudah pasti nafasnya adalah musik dari band yang menjadi headline (bukan headliner) acara tersebut, entah itu L'Arc~en~Ciel atau siapa pun. Tapi jika lalu dikatakan satu atau dua lagu yang bukan berasal dari mereka itu merusak suasana, rasanya agak berlebihan.

Begini. Penonton dan performer sama-sama datang di acara tersebut untuk melakukan satu hal: memberi penghormatan kepada sebuah band. Hanya saja, performer melakukannya dengan membawakan lagu-lagu band tersebut, sedangkan penonton dengan, um, menonton performer. Kalo gue datang ke acara tribute, yang gue inginkan bukan menonton sekelompok musisi peniru, tapi sebuah interpretasi akan musik yang sudah menginspirasi banyak orang. Dan untuk melakukan interpretasi, lo harus punya karakter sendiri. Individualitas. Atau, ya, lo cuma sekedar jadi musisi peniru aja.

Gue bukan ingin mengharuskan semua band menyelipkan lagu mereka sendiri di sebuah acara tribute. Gue cuma mau bilang, kalo satu lagu dari, say, empat atau lima lagu tribute dibilang merusak suasana, itu berlebihan. Dengan adanya lagu orisinil, sebagai penonton gue bisa mengapresiasi karakter sebenarnya dari performer bersangkutan--orang yang mengagumi band yang sama dengan gue. Dari lagu orisinil, gue bahkan berkesempatan melihat seberapa besar pengaruh, misalnya, L'Arc~en~Ciel, dalam  musik mereka. Toh lo seharusnya hanya main di acara tribute untuk musisi yang elo suka aja, kan?

Bayangin ini. Sekelompok orang suka band tertentu. Elo juga. Mereka mencoba ngebawain musik--tentunya pake latihan dan usaha--dari idola mereka, yang juga idola elo. Mereka lalu bilang, "gue main di acara ini karena gue hormat sama band ini, dan musik mereka adalah salah satu inspirasi gue buat berkarya." Masa sih elo nggak mau denger karya temen satu fandom? Yang aji mumpung sebenernya mereka, yang lo anggep nyusupin lagu, atau elo, yang cuma mau denger musik yang elo suka dibawain sama banyak orang sekaligus?

5 komentar:

  1. halo mbak Ines yang yoi. mau ngriwuki dikit ah.. xD
    1.. 2.. 3.. oke, di paragraf ke 3 saya "dong" dengan maksud tulisan. iya, saya sepakat dengan penulis.
    saya bisa dibilang sering nonton acara tribute, disitu justru kalau saya pribadi malah kurang suka dengan penampil yang menyerupai band/musisi headline di acara tribute.
    malah kalau meurut saya, performer tetap dengan ciri khas mereka, dengan persentase 35% lagu cover tribute sang headline dan 65% karya sendiri dari si performer. dan tetap dibawakan dengan style performernya sendiri.
    ambil contoh, tribute NoFX (ciyee... tetep) dengan performance dari The Upstairs (contoh lho ini, hhihihi), nah disitu The Upstairs membawakannya tetap dengan stylenya, new wave. melenceng memang, tapi justru kalau genre melenceng dari sang headline malah makin menarik, beragam, ujar si pemberi komentar.
    jadi nek menurutku, para performer (band-band/musisi) yang mengisi acara akan lebih greget kalau dari genre yang beracam-macam, tidak terpatok pada sang headline.
    begitulah kurang lebihnya. terimakasih atas diberinya kesempatan ngriwuki kolom ini, semoga sakses acaranya.

    salam,

    ~kumisliar~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mas Kumis yang Tukang Ngapusi (Liar) (Halah),
      Kalo yang dibawakan dengan genre sendiri mungkin banyak yang sudah mafhum (sakjane mafhum opo mahfum to?) ya, tapi begitu nyelip satu lagu sendiri, kok njuk terus do menjep. Opo saking senenge karo band sing dike'i tribute, opo piye? Padahal yo tinggal nonton. Kecuali nek regane tikete ora wajar, tur nek rega tikete ra wajar ngopo teko? Lak yo mending nonton bioskop ro yange. Iki sakjane mbahas opo ki?

      Hapus
    2. mahfum, sak ngertiku mahfum :D
      gak masalah nek menurutku, mau satu lagu, dua lagu, atau 50% dari total kesempatan yang diberikan panitia untuk mempresentasikan performer di suatu acara tribute, ora masalah. sing penting masih se-visi-misi permisi, toh panitia juga pasti sudah milih tenanan kan untuk performernya, ora sembarangan. :D
      nek soal penonton, sebaiknya mereka harus tau dengan tajuk dan tujuan acaranya. memang sih, mayoritas pengen liat "duplikatnya" sang headline, tapi sebagai panitia ya ora perlu khawatir tentang penonton sing menjep. tapi aku yakin, sing enjoi luwih akeh daripada sing menjep. mbalik meneh... ora masalah, ora masalah~ xD

      Hapus
    3. mafhum, soale asal katanya kan 'faham'.. yoi..

      Hapus
  2. ya mungkin tergantung jatah main nya juga kali yah ..kalo cuma 1-2 lagu ya jangan lah .
    kalo jatah nya lebih dari 2 lagu kayaknya gak apa apa bawain lagu sendiri dari si performer..

    BalasHapus